Rabu, 15 April 2020

Perlunya Literasi Kuliner

Tergelitik dengan trend minuman yang tengah viral belakangan ini.  Dan saya pun termasuk salah seorang penyuka kopi. Tapi mungkin sedikit berbeda dengan trend kopi yang marak belakangan ini.

Beberapa waktu lalu, memang saya juga termasuk salah seorang yang mencoba mempraktikannya. Sebagai seorang yang tidak terlalu mudah menerima perubahan rasa, tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi dengan penggunaan susu dalam minuman tersebut, tentu juga menjadi catatan tersendiri.

Bagi saya, mengikuti trend sah-sah saja. Namun, ada baiknya, kita juga perlu mempelajari dan memahami dengan apa yang tengah ingin kita praktikkan. Dan tentunya, disesuaikan dengan kondisi badan masing-masing. Apakah jika kita mengkonsumsi makanan atau minuman baru tersebut akan baik-baik saja.

Perlu juga dipelajari, komposisi dari makanan/minuman tersebut. Jangan sampai ada efek lain yang mungkin bisa ditimbulkan. Sebagai salah seorang penikmat kopi, tentu ini menjadi referensi tersendiri. Melihat dari resep yang saya pelajari kemarin, bagi saya tidak cukup sulit dan sangat familiar dengan bahan yang digunakan.

Bagi penikmat yang lain,kalau boleh saling berbagi nasihat. Sekali lagi hendaknya disesuaikan dengan kondisi diri sendiri. Jadi teringat dari ilmu yang pernah saya pelajari dulu. Kebetulan, jenis kopi yang direkomendasikan dalam resep tersebut sudah saya kenal sejak kecil.

Kebetulan orang tua saya adalah sebagai salah satu konsumen setia merk kopi tersebut.  Dan yang saya ingat memang rasa dari kopi tersebut sedikit lebih asam dari kopi lainnya. Jadi teringat dulu saya pernah sedikit belajar tentang kopi. Yang saya pahami, kopi yang berkualitas bagus memang punya kadar asam yang sedikit lebih tinggi. Jadi bagi kita yang punya masalah dengan kondisi pencernaan terutama lambung hal ini perlu untuk dipertimbangkan.

Nah menurut saya inilah salah satu manfaat perlunya literasi tentang perkulineran. Jangan hanya karena sedang mengikuti trend yang ada, kesehatan jadi taruhannya. Yuk, sama-sama belajar...

#kmp3
#opini
#kelasmenulisperpustakaan

Saat Kita Hanya Fokus Pada Kekurangan

Sejatinya tiap anak dilahirkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap anak dengan keistimewaannya masing-masing tidak mungkin kita simpulkan dengan satu standart yang sama.

Kelebihan pun kekurangan yang ada pada anak, baiknya disikapi dengan bijak oleh para orang tua. Ukuran pintar tidak hanya sekedar dari nilai-nilai kognitif yang tertera di raport. Tidak dipungkiri memang, siapa yang tak ingin cakap dan terampil dalam segi kognitif yang masih sering dielu-elukan kebanyakan orang.

Melabelkan sesuatu pada anak dengan label yang kurang baik bukanlah solusi yang tepat. Orang tua mungkin juga guru masih terfokus pada kekurangan yang ada pada anak. Kelebihan yang ada pada anak akhirnya tertutupi hanya karena ia tidak bisa memenuhi standart  kompetensi yang berlaku.

Belajar bisa menerima segala perbedaan pasti membutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Tidak perlu terburu-buru dalam menjatuhkan vonis tertentu yang sejatinya kita sendiri masih banyak meraba. Jangan sampai hanya karena ketidaksabaran dan keegoisan sebagai orang tua, yang pada akhirnya justru memadamkan potensi tersembunyi yang ada pada anak.

Dalam proses pembelajaran, capaian hasil yang diperoleh anak pasti beragam. Mengingat kemampuan anakpun juga beragam. Tidak hanya berpatok pada satu acuan tertentu saja. Toh, anak juga sedang berproses. Nasibnya tidak melulu mutlak hanya ditentukan oleh capaiannya saat ini saja.

Tidak perlu terburu-buru untuk memaksa anak memahami dan mengerti apa yang kita ajarkan. Pun tak perlu buru-buru dalam menyimpulkan. Pelabelan tertentu pada anak, acapkali malah hanya melukai perasaan yang ada. Dan tidak jarang akan sangat membekas di hati dan pikiran anak.
Bukankah kita juga menyadari kalau kompetensi ikan pasti akan berbeda dengan kompetensi burung?

#kmp3
#feature
#kelasmenulisperpustakaan

Senin, 13 April 2020

Cerita Tentang KMP Batch 3 Perpustakaan Daerah Kab. Sukabumi

Kegiatan penulisan yang diselenggerkan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Sukabumi masuk pertemuan ke-3. Masih dalam suasana work from home dan belajar dari rumah, kegiatan ini cukup memberikan warna untuk para guru yang mulai terbatas ruang dan geraknya.
Tak hanya diikuti oleh para guru, kegiatan bernama KMP Batch 3 ini juga diikuti oleh mahasiswa, wirausaha, dan ibu rumah tangga. Dipandu oleh Savitri Mutiara Agustine, pertemuan virtual ini selalu memberikan informasi terbaru untuk para pesertanya.
Tak dapat bertemu muka secara langsung, tak menghalangi para peserta untuk terus mengikuti kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Sukabumi. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dewasa ini, pertemuan yang dilaksanakan setiap awal pekan ini cukup berjalan lancar.
“Alhamdulillah, dengan mengikuti kegiatan penulisan KMP ini, banyak manfaat yang saya dapatkan. Yang pertama tentang ilmu kepenulisan itu sendiri, kedua tentang teknis penulisan, dan yang ketiga buat saya pribadi banyak sekali kosakata-kosakata baru yang juga saya peroleh,”ungkap Utik Kaspani peserta penulisan dari MTs. Nurul Huda Palabuhanratu yang dihubungi Kontributor Pena Production melalui sambungan telepon, Senin (13/04).
Sementara itu Kak Ivieth sapaan akrab Savitri dalam sambungan yang sama, mengungkapkan,”Kegiatan ini sedikit dibuat berbeda dengan yang sudah sering kita temukan di kelas menulis lainnya, dengan harapan  efek yang dirasakan peserta cukup kuat melekat dan mampu berproses terus ke arah lebih baik,”ujarnya.
Masih menurut Ivieth pihaknya berharap bahwa,”Tidak hanya dari teori menulis, tapi KMP juga diharapkan mampu membangun mental para penulis menjadi sekokoh batu karang yang tahan badai, namun tetep memperhatikan setiap masukan berupa kritik atau saran, agar pondasi individu sebagai penulis menjadi lebih kuat,”imbuhnya.
Satu hal yang digaris bawahi oleh Ivieth adalah bahwa,”Tidak ada kata tidak mungkin, ketika setiap proses berusaha kita selesaikan. Atas izin Allah, semua maksud baik selalu ada jalan. Begitu juga KMP, mengajak seluruh pesertanya untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam bidang kepenulisan, melalui setiap tahapan yang sudah disiapkan, tentu secara flexibel juga, mengikuti arus selama pelatihan berjalan,”harapnya.

#KMP
#Berita
#Feature
#Opini
#KMP3tantangan2

Minggu, 12 April 2020

Aku Nyerah

Aku nyerah...aku pasrah.. Mau tahu seperti apa rasanya menyerah kalah sebelum berperang? Sakit...sangat sakit, bahkan teramat sakit. Tapi aku sadar, aku tak bisa memaksakan keinginanku.
Tak mudah bagiku untuk merangkaimu wahai fiksi. Tak cukup nyali dan diksi yang kupunya tuk mengejamu. Tapi, apa aku kan selalu akan menyerah? Tentu tidak. Tapi setidaknya, beri aku waktu.
Waktu? Pasti kata itu akan kembali kau pertanyakan. Ya Waktu..sekalipun aku tak tahu sampai kapan waktu itu bisa aku tentukan. Tapi percayalah, aku akan berusaha. Karena apa...karena memang kau layak untuk diperjuangkan.
Untuk bisa mendekati dan selalu ada disampingmu itu tak mudah. Jadi memang kau sangat layak untuk diperjuangkan. Masihkah kau tak percaya..Aku tak akan menyalahkanmu. Karena belum satupun yang bisa kubuktikan untukmu. Ya...betul, betul yang kau bilang. Bualan...aku tak akan mengelak dan menampik ucapan itu. Tapi, percayalah...kau memang layak tuk diperjuangkan.
Sekalipun kali ini, aku menyerah. Menyerah sebelum berperang. Tapi jangan khawatir. Aku akan tetap berjuang, bangkit dalam keterpurukan dalam melawan kekalahan tanpa perjuangan...
#edisimenyerahtakbisanulisfiksi

Sabtu, 11 April 2020

Merenda Asa Dari Selembar Kertas

Mejadi guru di sebuah madrasah yang berada di pinggiran kota kabupaten tentu banyak memberikan cerita-cerita tersendiri yang penuh warna. Anak-anak diusia yang tak ingin lagi disebut dengan anak-anak, tapi juga belum dewasa. Layaknya remaja pada umumnya, fase ini tentu sedikit banyak penuh akan kepelikan masalah yang tengah mereka hadapi. Butuh pengakuan dan diterima diantara sesama dan identitas jati diri merupakan hal penting yang biasanya menjadi permasalahan mereka.
Kondisi murid-murid penulis memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kondisi murid-murid yang ada di wilayah kota Palabuhan ratu. Anak-anak umumnya sangat kental dengan pendidikan agama yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Aktivitas dimulai dari pagi ke sekolah seperti biasa, dan pulang dilanjut dengan kegiatan sekolah agama juga membantu orang tua. Hal semacam ini telah mereka lakukan semenjak kecil.
Diusia yang tengah beranjak dewasa, tentu sedikit banyak mulai merubah pola pikir dan tindakan yang mereka lakukan. Mulai berbaur dengan kalangan yang lebih luas, dan juga berinteraksi dengan berbagai macam guru yang ada di sekolah. Tentu hal ini sedikit berbeda ketika mereka masih ada di bangku sekolah dasar.
Penulis memang bukanlah sebagai guru BK ataupun wali kelas yang membimbing mereka secara intens. Penulis hanyalah seorang guru mata pelajaran saja. Namun dari pengamatan yang penulis lakukan, banyak anak-anak yang sepertinya tengah menyimpan prahara pelik tentang permasalahan yang tengah mereka hadapi.
Tidak ingin anak-anak salah dalam melangkah, ada satu hal yang dapat penulis lakukan sebagai seorang guru. Karena penulis berkeyakinan, sekalipun penulis bukanlah guru BK atau wali kelas mereka, tanggung jawab tetaplah sama. Bagi penulis, wali kelas hanyalah sebatas urusasn administrasi semata. Tetapi tangung jawab adalah milik bersama.
Dari beberapa hal yang penulis temuai di lapangan, terutama hasil klarifikasi dari orang tua, ada dua hal yang dapat penulis tarik sebagai sumber penyebab berkurangnya kedekatan hubungan antara anak dan orang tuanya. Yang pertama kesibukan orang tua dalam menacari nafkah, dan yang kedua anggapan anak-anak telah mandiri dan besar hingga tak perlu lagi perhatian yang intens dari orang tua.
Kondisi anak-anak yang penulis pahami adalah mereka sebagian besar tidak dekat dengan orang tuanya. Merasa anak sudah besar biasanya orang tua cenderung tidak sedekat lagi ketika anak-anak masih balita. Padahal sesungguhnya tetap saja sama. Justru kekhawatiran untuk anak-anak yang mulai beranjak gede ini semakin mengkhawatirkan.
Belum lagi alasan kesibukan orang tua yang acap kali penulis dengar. Dengan kesibukan yang mereka geluti dan dengan pemikiran anak-anak yang sudah tak perlu diawasi secara intens lagi justru membuat hubungan anak dan orang tua cenderung menjadi merenggang.
Akibat hubungan dengan orang tua yang cenderung tidak dekat, maka anak mencari sumber lain yang dirasa dapat membuatnya nyaman, dan bisa menerima dirinya dengan utuh. Maka selain orang yang paling memungkinkan adalah teman-teman sebayanya, utamanya yang ada di sekolah. Bukan tidak boleh, namun apabila anak sudah lebih percaya pada teman-temannya yang relatif seusia, maka kesenjangan bisa jadi makin bertambah.
Baik orang tua dan pihak anak hendaknya, sama-sama bertemu di tengah. Untuk dapat menyemakan pandangan, demi membina hubungan yang lebih baik. Menjadi orang tua kedua bagi anak-anak di sekolah sedikit banyak merupakan guru terbaik bagi penulis. Kembali belajar menyelami masa remaja kids jaman now, dan segala seluk beluk masalah yang tengah mereka hadapi.
Hal yang bisa penulis lakukan untuk membantu anak-anak yang tengah mempunyai masalah adalah salah satunya dengan berkomunikasi. Namun kenyataannya, tidak semua anak dapat mengungkapkan perasaan yang tengah dirasakannya dengan kata-kata yang langsung keluar dari mulut mereka.
Menuliskan surat buat guru pembimbing tentang suasana hati mereka pagi itu (alternatif menggali permasalahan yang terjadi juga sebagai sarana untuk membuka komunikasi dengan anak yang tidak selalu bisa secara  gamblang mengungkapkan permasalahannya)
Setelah membaca coretan hati mereka, selanjutnya yang penulis lakukan adalah menganalisis tingkat masalah yang dihadapai para siswa. Memilah dan memilih dalam skala prioritas, mana hal yang harus terlebih dahulu untuk diselesaikan, membantu menyelesaikan lebih tepatnya. Karena segala hal, tentu mereka sendirilah yang akan menyelesaikannya.
Setelah mempelajari masalah-masalah yang dianggap penting, langkah selanjutnya yang penulis lakukan adalah mengajak bicara. Tentu dalam susasana dan waktu yang tepat pula. Jangan sampai, keinginan kita selaku guru yang akan membantu menyelesaikan atau mengurai masalah yang tengah mereka hadapi justru semakin membuat runyam keadaan.
Mendengarkan, tidak memotong pembicaraannya kecuali pihak anak yang meminta pendapat, dan tidak menggurui bahkan memarahinya adalah langkah tepat yang dapat kita lakukan untuk membangun tingkat kepercayaan pada anak. Setelah semua rangkaian proses kita jalani, baru bersama-sama mencari solusi alternatif atas permasalahan yang tengah mereka hadapi.
Biasanya penulis pun akan terlebih dahulu membuat sebuah kesepatan. Kesepakatan yang penulis maksud antara lain, tidak akan memaksa anak untuk menuruti semua yang akan penulis sampaikan dalam upaya membantu menyelesaikan permasalahannya. Hal ini semata penulis lakuakan demi menjaga tingkat kepercayaan anak.
Biasanya dengan tahapan yang penulis lakukan, justru anak akan dengan sendirinya meminta saran dan gambaran tentang apa saja yang harus mereka lakukan. Mencoba menempatkan diri dalam posisi menjadi anak. Toh..dalam hal ini tentu guru telah pernah memasuki fase ini.
Dari apa yang telah penulis lakukan memang bukanlah jaminan anak akan secara gamblang dapat menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya. Namun setidaknya, kehadiran guru sebagai orang tua kedua di madrasah telah dapat menggantikam posisi guru sebagai orang tua kedua bagi anak.
Penulis tidak ingin mengambil resiko untuk kehilangan kepercayaan dari anak. Beberapa kasus pernah penulis tangani sendiri tanpa melibatkan pihak manapun. Tentu hal ini mempunyai sisi kurang dan lebihnya sendiri.

Dengan adanya komunikasi yang penulis bangun, setidaknya ada beberapa hal yang dapat penulis catat. Diantaranya :
Dengan adanya gaya Anak setidaknya bisa menumpahkan uneg-uneg
yang dialaminya.
Ada tempat untuk anak-anak berbagi suka dan terutama duka atas
permasalahn yang tengah dialaminya.
Ada orang yang dapat dipercaya oleh anak terutama di lingkungan
sekolah sebagai rumah kedua dan orang tua kedua bagi anak.
Wujud upaya nyata dalam menerjemahkan madrasah ramah anak,
mengacu pada kaidah sekolah/madrsah yang ramah anak (Bersinar (bersih,
sehat, indah/inklusif, aman/nyaman, ramah).

Anak merasa nyaman dan aman  berada di sekolah.
Anak tidak merasa sendiri dengan permasalahan yang dihadapinya.

Dan beberapa hal terkait dengan kondisi anak-anak apabila mereka tengah dirundung masalah adanya keinginan untuk :
Tidak ingin dibanding-bandingkan dengan anak yang lain, dengan
sadaranya sekalipun.
Memahami posisi anak yang memang ada dalam kesulitan/kesalahan,
 untuk tidak makin diungkit kesulitan /kesalahannya.
Ingin didengar semua apa yang mereka katakan.
Mereka juga tengah belajar memahami apa yang orang tua inginkan.
Mereka paham, pola pikir mereka masih dalam proses, sehingga tidak
ingin orag tua menuntut mereka berfikir layaknya seperti orang dewasa
yang telah matang pola pikirnya.

Mereka sangat paham, bahwa saat ini mereka masih dalam proses mencari jati diri. Butuh kawalan dan bimbingan yang menyejukkan, bukan sekedar menuntut, memarahi, apalagi memahami tanpa ada role model yang baik. Tentu dalam hal ini, peran oranng tua dan guru yang merupakaan role model yang mereka harapakan.
Semoga dengan segala pendekatan yang dapat penulis dan para guru lainnya yang telah dilakukan, dapat membantu anak dalam upaya menyelesaikan/menguarai masalah yang tengah mereka hadapi. Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi penulis peran wali kelas bagi penulis adalah hanya sebatas peran administrasi saja. Tetap tanggung jawab moral ada pada pundak semua guru, termasuk keberadaan guru BK yang ada di sekolah.
Tidak ada maksud untuk mencampuri ranah pekerjaan ataupun ranah garapan bidang lain, semata-mata dilakukan atas nama panggilan hati dan jiwa selaku pendidik dan pengajar. Berharap tak ada ada lagi anak yang salah jalan dan salah kaprah dalam menyikapi persoalan yang ada. Sejatinya baik guru, orang tua dan siswa/anak tersediri adalah pembelajar sepanjang hayat. Tak ada batasan waktu untuk tidak belajar.

Kamis, 09 April 2020

Boleh Sepakat Untuk Tidak Sepakat

Merdeka belajar ramai terdengar sejak mulainya Mas Menteri ada dalam jajaran kabinet. Pemahaman tentang merdeka belajar yang digaungkan oleh Mas Menteri pun saya coba resapi dan perlahan untuk saya mengerti. Ibaratnya seorang murid, tetap saya butuh seorang guru untuk membantu saya menerjemahkan makna merdeka belajar yang seperti diinginkan oleh Mas Menteri.
Sebagai seorang yang sedikit mengalami hambatan  slow learner, saya akui saya tidak bisa memahami sesuatu secepat orang lain bisa yang lakukan. Untuk saya, terkadang butuh tiga empat kali penjelasan, baru saya akan mulai memahaminya. Sekalai lagi, mulai memahaminya..
Sebelumnya saya jadi bertanya-tanya dengan adanya kalimat tersebut diatas. Walaupun mungkin, pemahaman dari makna tersebut akan sedikit berbeda dengan apa yang saya maksud. Dalam benak saya tetiba muncul sebuah kalimat tanya, “Apakah selama ini kita ngajar merasa tidak merdeka? Apa makna meredeka yang diinginkan dalam belajar?
Setidaknya dua kaiamat itu yang tiba-tiba ada dalam benak saya. Sekali lagi, walau mungkin dalam konteks pehaman yang berbeda. Dan pada kesempatan kali in., saya ingin membagi makna meredeka belajar yang saya pahami.
Takaran makna merdeka mungkin bagi setiap orang juga kan relatif. Tergantung dari sudut pandang dan persepsi mana yang digunakan. Sejauh ini, saya...memahami makna merdeka belajar dari kesejahteraan guru.
Mungkin apa yang saya ungkapkan barusan diatas terkesan dangkal, sempit dan ntah mungkin akan ada sejuta istilah serupa yang intinya tidak sama dengan apa yang saya maksudkan.
Merdeka yang saya maksudkan disini memang cukup dangkal. Tidak salah bagi yang mungkin menjudge seperti itu. Merdeka yang saya maksud baru sejauh urusan perut. Bagaimana seorang guru akan merasa merdeka dalam belajar, sedangkan untuk urusan perut saja masih menjadi hal terbesar yang ia pikirkan.
Terutama bagi para guru yang masih berstatus sebagai honorer. Tentu saya tidak akan membahas persoalan secara terperinci tentang jumlahan yang diterima. Sudah menjadi rahasia umum, kalau pendapatan seorang guru, terutama guru honorer itu tidaklah besar (baca : layak). Bahkan anak kecil sekalpin sudah paham akan hal ini. Maka tak jarang kalau ada yang ditanya apakah ada yang mau jadi guru, serentak menjawab tidak. Lagi-lagi karena alasan finasial.
Naif..sempit..dangkal...apa yang saya paparkan. Mungkin sebagaian akan berpendapat seperti itu. Namun itulah yang saya maknai dari makna merdeka. Guru-guru belum merasa merdeka belajar, masih terbelunggu dalam urusan dapur yang masih terus dipertanyakan aktifitas ngebulnya asap dapur.
Tapi apapun kondisi yang ada saat ini, yang saya amati tetap saja guru-guru selalu penuh semangat dalam mengajar. Tentu saja ini dedikasi yang luar biasa bukan. Jangan buru-buru menjudge naif dan sebagainya. Apalagi jika kita tak berada dalam posisi mereka.
Makna merdeka belajar yang dimiliki oleh setiap orang boleh beragam kan. Tergantung dari sudut pandang dan persepsi yang digunakan. Bukankah kita boleh sepakat untuk tidak sepakat? Dan jangan pula katakan, siapa suruh jadi guru? Yuk, sama-sama belajar...

Hanya Sekedar Gaya

PJJ yang marak belakangan ini, semenjak datangnya tamu tak diundang menjadikan gawai menjadi barang yang paling diburu. Selain alasan kepraktisan, dan karena gawai juga hampir semua orang saat ini sudah memilikinya.
Pun demikian halnya, dengan yang saya alami. Mencoba PJJ dengan memanfaatkan gawai yang ada awalnya terbayang kemudahan dan kepraktisan yang akan saya dapatkan. Tapi apakah seperti itu adanya?
Sama sekali tidak. Secara kekinian, jenis gawai yang mereka miliki jauh lebih bagus dan lebih terbaru dari yang dimiliki oleh bapak ibu gurunya. Tapi nyatanya, gawai keluaran terbaru yang mereka miliki sekalipun hanya sebatas untuk bergaya.
Sekedar untuk ber-swafoto, update status di media sosial dan sekedar untuk alat komunikasi yang sifatnya standart/dasar (WA, VC, telepon). Tak lebih dari itu. Dan ketika dicoba untuk berkenalan dengan fitur baru yang mungkin baru sekarang mereka kenal dan pahami, tidak semua lantas antusias untuk mengetahuinya.
Persoalan sulitnya jaringan dan ketiadaan kuota itu menjadi cerita lain lagi. Dan tentunya bagi mereka yang tidak punya gawai, atau hanya yang menggunakan gawai milik orang tua tentu menjadi cerita lain tersendiri.
Layaknya sebuah pembelajaran, harus adanya refleksi. Dan pada kesempatan kali ini, merupakan refleksi PJJ yang saya lakukan selama kurang lebih tiga minggu ini. Tentu kesimpulannya tidaklah maximal. Bagaimana dengan cerita di tempat Bapak Ibu Guru lainnya?

Rabu, 08 April 2020

Ini Refleksi PJJ Ku, Mana Refkesi PJJ Mu?

Sudah masuk minggu ketiga kita menjalani masa belajar di rumah. Siap tidak siap, nyatanya memang hal itu harus kita jalani saat ini. Termasuk juga dengan guru, yang tiba-tiba harus semua secara virtual melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Layaknya sebuah pembalajaran biasa, tentu kita juga butuh refleksi. Sebagai bahan evaluasi dan perbaikan kedepannya lagi. Apakah pembelajaran yang sudah kita lakukan selama kurang lebih tiga minggu ini dapat dikatakan berjalan dengan baik atau tidak. Sejauh mana efektifitas dan tingkat keberhasilan dari PJJ yang kita lakukan.
Juga perlu digali apa suka-duka yang kita alami selama PJJ berlangsung. Tentu semua bukan semata hanya sebagai ajang curhat saja. Tapi lebih pada sebuah upaya untuk perbaikan kedepannya.
Yang saya alami, ternyata cukup mencengangkan. Atau jangan-jangan diluar sana banyak juga para guru yang mengalami hal serupa seperti yang juga saya alami.
Beberapa hal yang saya temui selama berlangsungnya PJJ adalah sebagai berikut:
1. Dalam PJJ, laptop, gawai adalah sarana teknologi informasi yang paling dibutuhkan. Nyatanya, tidak semua murid saya mempunyai kedua jenis barang tersebut. Walaupun mungkin, saat ini gawai bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang saja.
2. Adapun anak-anak yang memiliki gawai, bahkan gawai mereka seri keluaran terbaru yang jauh lebih bagus daripada milik bapak ibu gurunya. Nyatanya penggunaan gawai yang mereka miliki hanya sebatas mengikuti mode saja.
3. Penggunaan gawai yang mereka miliki sebatas untuk berswa foto, dan bermedia sosial lannya. Disamping tentu sebagai alat komunikasi yang utama.
4. Banyak fitur-fitur dasar yang mereka belum pahami. Misalnya bagaimana cara membuka sebuah dokumen baik itu berupa dokumen word, exel, maupun ppt.
5. Dalam satu kelas yang berisi kurang lebih 32 anak, hanya sekitar 10 anak yang memiiki gawai. Dan dari 10 anak tersebut, hanya 3-4 anak yang aktif mengikuti.
6. Dari anak-anak yang punya gawai, masalah belum berakhir sampai disana. Anak-anak yang punya gawai sekalipun, punya kendala keterbatasan kuota. Selain jaringan yang juga menjadi kendala utama. Maklum saja, lokasi sebaran tempat tinggal anak-anak dibawah gunung.
Itulah sekelumit refleksi yang bisa saya sampaikan dalam masa kurang lebih tiga minggu belakangan ini. Jujur, sangat jauh dari harapan dan bayangan semula. Semula saya membayangkan, cukup dengan moda WA grup yang kami miliki semua keraguan dapat tertasi. Nyatanya tidak semudah apa yang saya bayangkan.
Tapi tak perlu berputus asa. Walau masih jauh dari apa yang diharapkan, setidaknya kini mereka mulai mengenal fitur-fitur lain yang ada dalam gawai mereka. Penggunaan gawai yang mereka miliki tak hanya sebatas untuk berswafoto ataupun bermedia sosial lainnya saja.
Semoga hikmah pendemi Corana yang tengah melanda seluruh dunia ini menjadikan manfaat juga bagi anak-anak. Anak-anak dan gurunya dapat lebih bisa belajar mengenal teknologi informasi dengan lebih baik.

Minggu, 05 April 2020

Niat Ga Sih?


Menulis...merangkai kata? Sesuatu yang dulu pernah sangat saya hindari, bahkan sedikit membuat saya alergi dan sangat tidak ingin menyentuhnya. Tapi anehnya saat itu, saya tidak lantas berjauhan dengan seluk-beluk penulisan. Tetap berada dalam komunitas yang sama sekali hanya saya nikmati tanpa ikutan menulis.
Sungguh kelakuan yang aneh kalau saya ingat-ingat lagi saat ini. Memberanikan diri masuk dalam sebuah komunitas yang sama sekali tidak saya minati. Dan lebih anehnya lagi, berada dalam komunitas itu saya betah. Bukandalam hitungan satu dua hari, bahkan terbilang tahunan. Jujur memang saat itu ada hal lain yang menjadi motivasi saya mengapa menceburkan diri walau tak ingin basah.
Ada hal lain yang sangat ingin saya pelajari saat itu. Dan tentunya iklim kekeluargaan yang menurut saya siapa pun pasti ingin masuk kedalam komunitas ini. Mengapa tak jua saya menulis saat itu? Secara teoritis sebenarnya sudah sangat mumpuni untuk bisa menulis.
Teori dan terpaan oleh senoir-senior yang rutin diberikan sebenarnya sudah lumayan cukup untuk mulai menulis. Namun sekali lagi, niat dan tekadnya belumlah bulat. Akhirnya saat itu saya lebih memilih fotografi dan mulai mengenal dunia kehumasan.
Menulis memang tidaklah cukup hanya dengan bekal pengetahuan dan teori saja. Pun demikian dengan halnya yang bernama bakat. Bagi saya, menulis bukanlah sebuah bakat yang diturunkan atau diwariskan. Menulis adalah sebuah keinginan dan kemauan yang harus diwujudkan nyata. Bukan hanya sekedar impian-impian seperti yang dulu pernah saya lakukan.
Impian-impian saja, tanpa adanya aksi nyata sama dengan bualan. Lantas apakah saat ini saya sudah merasa bisa dalam menulis? Jawabannya sederhana. Masih tetap belum bisa.
Saya menyadari, tulisan saya belumlah baik. Masih banyak tata bahasa dan teknik penulisan yang masih saya langgar. Pun demikian halnya dengan teori-toeri yang saat ini berkembang pesat tentu tak lagi belum bisa saya ikuti semua.
Lantas apa bedanya dengan pengalaman saya di masa yang lampau? Sangat berbeda tentunya. Dulu saya hanya sebatas mimpi. Sebatas angan-angan ingin nulis tanpa adanya aksi nyata. Tak satu kalimatpun saya buat. Tapi sekarang, mulai mencoba untuk menulis.
Apakah susah...apakah menyenangkan? Coba sendiri deh, hati-hati, menulis bisa buat jatuh cinta lho..

Sabtu, 04 April 2020

Benarkah Satu Warga Yang Meninggal Karena Corona?


Kemarin seketika gempar dengan pemberitaan salah seorang warga di kota kami. Dalam pemberitaan yang beredar, warga yang meninggal dunia disinyalir terpapar virus yang sangat menakutkan itu. Tak ayal lagi, pagi-pagi semua grup WA dan media sosial lainnya penuh dengan pemberitaan yang sama. Pun demikian halnya dengan percakapan di grup WA.
Nyatanya jika ada kejadian yang meninggal, dan itu ada di dekat kami tinggal pasti membuat gempar dan tentunya sangat menakutkan. Walau kematian adalah suatu hal keniscayaan, tetap saja bagi sebagian orang kematian menajadi sebuah misteri yang menakutkan. Apalagi saat ini tengah ramai wabah sang virus.
Namun dari kondisi yang lumayan mencekam ini, nyatanya warga di kota kami masih relatif tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Lalu lalang jalan memang sedikit berkurang, namun menurut saya semata hanya karena tidak adanya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selebihnya, tempat-tempat publik lainnya masih relatif ramai.
Kesadaran warga memang tentu tidak seragam. Apalagi jika dalih ekonomi dan urusan perut yang menjadi alasan utama mereka untuk mengurangi kegiatan berkerumun dengan masa, tentu menjadi alasan yang sangat sulit. Tidak dipungkiri memang, sebagian besar mata pencaharian warga di kota saya sebagai pedagang, nelayan dan jenis wirausaha lainnya.
Jika mereka tidak berusaha hari ini, apa yang akan menjadi bekal mereka untuk tetap menjamin asap dapur tetap ngebul. Kembali pada berita yang tadi pagi merebak. Berbagai macam pendapatpun akhirnya bermunculan. Intinya ada dua. Satu berusaha meramaikan dengan cera membagikan, dan yang kedua berusaha untuk menutupi dengan tidak ikut-ikutan menyebarluaskan.
Bagi yang menutupi dengan tidak ikut-ikutan menyebarluaskan, secara garis besar dengan alasan menjaga perasaan keluarga almarhum. Sedangkan yang kedua, yang berusaha menyebarkan, bermaksud untuk memberikan peringatan pada warga untuk lebih waspada. Saya yakin, tentu keduanya punya masud dan tujuan baik tertentu.
Perbincangan tentang berita kematian pagi tadi masih juga menjadi topik hangat di berbagai WA grup yang saya miliki. Sampai pada sore menjelang muncullah berita tentang hasil pemerikasaan rumah sakit berwenang. Dalam keterangan yang diberikan, ternyata warga yang diduga positif mengindap Covid 19 ternyata tidaklah benar. Seketika lambat laun, mereda juga pembicaraan tentang hal tersebut.

Bagaimana Menerjemahkan Makna Inklusifitas Dalam Hidup Keseharian?


Dalam keseharian di sekolah, tentu beragam warna dalam kehidupan hadir menemani tumbuh dan kembangnya anak-anak di sekolah. Termasuk juga pasti mewarnai kehidupan para gurunya tanpa terkecuali. Sekolah sebagai rumah kedua baik bagi para siswa maupun guru-guru selaku pengajarnya, sudah barang tentu juga akan memberikan suasana yang pasti akan berbeda dengan rumah utama mereka.
Keberagaman yang berasal dari banyak hal yang bermula dari masing-masing keluarga akan membaur menjadi satu dalam keluarga besar rumah kedua yaitu sekolah. Dan tentunya, penulis yang berperan selaku pengajar, juga mendapatkan banyak hal dalam pengalaman dan cerita seru dan menarik yang senantiasa hadir dan terjadi setiap saat dan setiap waktu. Tidak saja para siswa yang mendapatkan pembelajaran ini, namun juga kami para pengajar, khususnya penulis sangat merasa sekolah sebagai laboratorium alami yang merupakan gudangnya ilmu pengetahuan.
Terhitung sejak medio Januari 2017 silam, Kementarian Agama Kabupaten Sukabumi telah mendeklarasikan diri menjadi salah satu lemabaga pendidikan yang concern terhadap pendidikan inklusi. Pendidikan yang mengakomodir semua murid tanpa terkecuali. Termasuk anak-anak istimewa dengan segala kebutuhan khususnya.
Pendidikan inklusif yang tengah dinisiasi dan digaungkan dalam wadah pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, bagi penulis tidak hanya sebatas dari bentuk layanan pendidikannya saja yang inklusif. Makna inklusif yang penulis maknai tentu memiliki spektrum yang lebih luas. Tidak hanya sebatas model lalayanan pendidikan dan terget layanan inklusifitas.
Hakikatknya kita sebagai individu sudah pasti berbeda. Begitu banyak perbedaan dan ketidak seragaman yang ada, penulis maknai sebagai keagungan Yang Maha Kuasa. Sebagai bukti nyata, betapa Allah begitu Maha Kaya dan begitu Maha Hebat hingga dapat menyajikan keberagaman yang tak terhitung jumlahnya. Lalu apakah dengan banyaknya keberagaman yang tersaji di depan mata kita, lantas apa yang harus kita lakukan?
Sebagai seorang pribadi yang masih terus belajar, tentu keberagaman yang penulis hadapi saat ini juga merupakan salah satu kurikulum nyata yang juga harus dipahami secara nyata. Salah satu upaya untuk memaknai inklusifitas dalam kehidupan sehati-hari khususnya saat berada disekolah, penulis punya bebrapa cara diantaranya dengan cara belajar open mind .
Open mind yang penulis maksud disini adalah, kemampuan dan kemauan dari diri kita pribadi untuk bisa dan mau menerima adanya perbedaan dengan yang lain. Dalam hal ini tentu saja bisa dengan rekan sejawat, pun juga dengan para siswa. Menyadari bahwa masing-masing diri pribadi kita adalah sosok pribadi unik dan punya sisi menarik masing-masing yang tidak mungkin untuk diseragamkan.
 Hal selanjutnya yang harus selalu kita pahami dan pelajari adalah, kemauan untuk  mengakui kelebihan orang lain. Tuhan pasti telah menciptakan setiap individu hambanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dari setiap keunikan individu ini, sebaiknya tidak dijadikan sebuah persoalan yang tidak menghasilkan manfaat apapun juga.
Perbedaan yang ada, termasuk kelebihan yang dimilik oleh orang lain, sebaiknya dapat kita akui dan hargai dengan baik. Tidak perlu merasa lebih terungguli, takut merasa menjadi saingan dan sebagainya. Hala-hal negatif yang sama sekali tidak membawa nilai kebaikan, hendaknya jangan dipelihara.
Satu hal penting lainnya yang senantiasa kita jaga adlaah, dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Hal ini dapat kita maknai baik memaksakan kehendak yang bersifat pemikiran, maupun perbuatan. Cukup dengan rasa tenggang rasa dan sifat mau menghargai perbedaan yang ada, semoga semangat inklusifitas yang kita tumbuh dan kembangkan dapat terus bersemayam di lingkungan sekolah kita.
Adanya keberagaman dan perbedaan yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari tentu sedikitnya menimbulkan permasalahan. Tidak perlu membesar-besarkan masalah terkait yang namanya perbedaan, namun cukup menyikapinya dengan sikap dewasa dan bijak.
Lantas dari mana keberhasilan memaknai prinsip inklusifitas dapat dikatakan berhasil? Tentu harus ada pihak luar yang dapat memberikan nilai dalam hal ini. Butuh waktu dalam berproses untuk dapat menerjemahkan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.  Dalam peralanan menerjem,hkan prinsip inklusifitas ini, tentu tidaklah mudah, namun bukan berarti sesuatu yang tak dapat dicoba.
Dan tentunya sebagai seorang guru dalam menjalani profesi mulia ini, dan sebagai seorang pribadi, memaknai prinsif inklusifitas semoga tidak saja hanya sekedar pemanis bibir atau slogan semata. Semoga kita dapat sama-sama saling bahu membahu berkolaborasi dalam memaknai inklusifitas yang ada. Jangan sampai niat luhur dan mulia ini hanya berakhir menjadi sebuah slogan semata.
Perbedaan yang kita hadapi dan kita temui setiap hari, hendaknya mampu menjadi sarana untuk dapat mendewasakan diri secara elegan. Bukankah memang pada fitrahnya kita setiap insan adalah berbeda. Bukankah pelangi nampak indah karena perbedaan warna yang disuguhkannya?
Banyak hal baru yang harus penulis pelajari dalam kurun waktu bersama  dengan dunia humas. Sebenarnya bukanlah hal baru yang penulis kenal tentang dunia kehumasan ini. Namun tetap saja tersa baru dan berbeda setalah sekian lama tak menyentuh dan berkecimpung di dalamnya. Lagi-lagi pengalaman di masa lalu ternyata baru terasa manfaatnya di waktu beberapa waktu kemudian.
Pernah mengenal dunia kehumasan saat masih menjadi seoarng mahasisiwa di kampus tercinta Univ, Jember. Bahkan penulis sempat dan terbilang lumayan sering mengikuti beberapa pelatihan dan short course yang diadakan oleh pihak universitas.
Namun dari pelatihan–pelatihan yang pernah penulis ikuti dan jalani, apakah lanatas memebuat semua itu terasa mudah layaknya kita berjalan dan menyusuri jalan tol? Tentu tidak.




Belajar Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

#KMP3 Ramadhan baru saja usai. Seiring gema takbir yang berkumandang. Nuansa bahagia menyambut hari yang fitri. Berbagai penganan pun dihi...