Kamis, 02 April 2020

Personal Branding Bagi Seorang Guru


Sebagai seorang pendidik yang fitrahnya mengajar dan mendidik, tentu image baik akan selalu “dipaksa” melekat pada diri seorang guru. Guru seakan tak boleh punya salah. Kebaikan-kebaikan yang dibuat oleh seoarng guru seakan adalah suatu yang lumrah dan wajar. Namun jangan sekali-kali berbuat salah, kesalahan dari seorang guru seakan telah menempatkan guru pada tempat terujung, terdalam dan paling gelap dari sisi kemanusiaan. Padahal hakikatnya seorang guru juga hanyalah manusia biasa yang tentu tempat salah dan kilaf.
Seorang guru yang selama ini telah dikenal sejak lama sebagai pasukan Oemar Bakri sebagai sosok yang digugu dan di tiru, sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa sebagai salah satu agen perubah yang ada di masyarakat.
Terlepas dari semua hal yang penulis sampaikan diatas, tentu sebagai seorang guru, penulis hanya akan melihat dari sisi positifnya saja. Tidak mudah memang bagi penulis, namun bukan suatu hal mustahil yang dapat kita coba.

Personal branding bagi seorang guru, penulis maknai sebagai sesuatu yang dibangun oleh seorang guru secara pribadi tentunya untuk menciptakan brand atau image yang baik. Citra atau image yang dibangun tentu berguna untuk menciptakan ke khasan terkait kompetensi yang dimiliki oleh guru tersebut. Citra positif yang diupayakan untuk dibangun ini terkait juga dengan aktualisasi yang coba ditonjolkan oleh seseorang, tanpa terkecuali guru.

Personal branding bagi seorang guru dapat tercermin dari perilaku posistif kesehariannya. Salah satu contoh personal branding yang umum dimiliki oleh seorang guru antara laincerdas, dapat memotivasi tinggi, bisa memberikan semangat untuk terus berprestasi, berbakat (multi tasking), memiliki interpersonal skill dan tulus dalam melayani peserta didik maupun masyarakat lain secara umum.

Personal branding bagi seorang guru adalah proses sepanjang masa yang terus diupayakan sebagai bagian dari upaya pembelajar sepanjang hayat untuk terus dapat menerjemahkan dan mengimplementasikan secara nyata kebermaknaan belajar.
Personal branding yang dapat dibangun oleh seorang guru dengan cara mengemban amanah, dan dibangun berdasarkan kualitas reputasi kehidupan guru, kemampuan melaksanakan tugas dengan dapat menaikan mutu pembelajaran siswa, memiliki kepribadian terpuji, pemahaman wawasan kependidikan dan partisipasi dalam kemasyarakatan .
Tujuan atau cita-cita seorang guru (siswa lebih berkembang, brand berkaitan dengan persepsi). Secara sederhana seorang guru dapat memasarkan diri melalui kecakapannya. Personal branding dengan melakukan reputasi kepribadian berkualitas dalam keseharian inilah yang perlu dibangun para guru di Indonesia agar lebih mempunyai “value”.
Tujuan personal branding terlihat menjadi lebih baik, citra yang baik, meraih prestasi (prestasi seorang guru adalah mencetak murid-murid yang dapat mengadopsi dan memahami pelajaran yang disamapaikan) akademik maupun non-akademik.
Berbagai cara yang dapat digunakan dalam mewujudkan personal branding bagi seorang guru antara lain ;
1.                  Komunikasi
Berkomunikasi dengan peserta didik juga sangat penting. Memberikan motivasi, ilmu baru dan pengalaman-pengalaman. Dari komunikasi yang baik dapat dibangun kesan posistif yang coba kita sampaikan pada lawan bicara yang kita kehendaki. Personal branding juga akan sangat mudah dibangun dari adanya komunikasi yang efektif antara komunikator dan komunikan.

2.                   Miliki Medianya
Perkembangan teknologi di era 4.0 ini merupakan suatu kesempatan yang sangat memudahkan untuk membangun komunikasi tanpa terhalang ruang dan waktu. Kecanggihan teknologi komunikasi dewasa ini seperti facebook, twitter, instagram, blog, vlog, dan lainnya dapat untuk membantu mempromosikan personal branding yang coba dibangun oleh seseorang, tidak terkecuali guru.

3.                  Jaga dan pertahankan
Meraih itu lebih mudah dari mempertahankan. Personal branding yang telah melekat pada diri seseorang seyogyanya tetap dijaga. Karena hakikatnya manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat dituntut untuk terus menghias dirinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Menjaga dan tetap mempertahankan personal branding yang telah dimiliki oleh seoarng guru tentu dengan maksud agar dapat menjadi inspirasi dan teladan yang baik bagi peserta didik.
Personal branding adalah bagaimanakita membangun dan mempromosikan apa yang  kita perjuangkan. Mungkin kita lebih sering mendengar penggunaan istilah brand pada merek-merek ternama. Namun brand activation/ aktivasi brand bisa Anda terapkan juga pada diri kita. Personal branding merupakan kombinasi unik dari keterampilan dan pengalaman
Personal branding merupakan sebuah konsep yang kita bangun dalam kondisi baik oleh diri sendiri untuk memberikan kesan dan citra pada orang lain tentang bagaimana persepsi yang ingin kita bangun. Sebagai seorang guru, tentu membangun personal branding adalah juga sebuah cara untuk meningkatkan   kualitas keprofesionalannya.
Pendidikan adalah salah satu fokus yang penting bagi diri kita untuk dieksekusi sepanjang rentan kehidupan. Sebagaimana Jim Rohn pernah mengatakan: “formal education will make you a living and self-education will give you a fortune”.
Personal branding juga berperan dalam memperjelas tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Membantu kita lebih terlihat dan diakui, serta membangun keunikan pribadi. Personal branding yang telah terbangun membantu  kontrol diri dan kekuatan dan ketahanan. Dan yang pasti, personal branding akan menggambarkan citra diri yang  unik dan berbeda. Personal branding merupakan sebuah cara termudah untuk mendefinisikan diri kita yang berbeda dengan orang lain.

Saat Hanya Bisa Melepasmu Dalam Mobil Ambulance Itu


Terkoyak rasanya hati ini melihat video kiriman seorang rekan. Video yang juga didapat dari hasil berbagi tersebut pasti mengoyak hati siapa pun yang menyaksikannya. Terutama tentunya bagi para orang tua.
Terlebih lagi tentunya bagi sang orang tua dari lelekaki tanggung itu. Karena di duga terjangkit virus Corona, seorang remaja laki-laki dijemput oleh tenaga kesehatan dengan ambulance dan peralatan pelindung diri lengkap.
Tidak ada salam perpisahan. Tidak pula dengan pelukan hangat yang biasa ia dapatkan tiap kali akan bepergian. Hanya lambaian tangan yang mampu ia berikan pada sang putera tercinta. Tentu diiiringi dengan untaian doa dalam lelehan air matanya yang tiada henti.
Hati orang tua mana yang tak tercabik-cabik melihat adegan dalam video tersebut. Tidak disebutkan dimana lokasi video tersebut diperoleh. Yang jelas, semua itu terjadi di waktu malam. Nampak dalam video yang dibagikan tersebut, sepeertinya rumah remaja tanggung tersebut ada di sebuah perkampunagn yang lumayan sepi. Terlihat dengan samar banyakknya pepohonan dan ruas jalan yang lumayan lebar.
Hanya deraian air mata yang dapat ia lakukan dibalik keca ambulance saat lambaian itu hilang ditelan malam. Keganasan virus yang tengah naik daun telah memisahkan hangatnya keluarga dari seoarng anak.
Semoga kau cepat sembuh Nak. Dan segera dapat berkumpul kembali dengan keluargamu. Ayah Ibumu pasti tak akan pernah putus mendoakan yang terbaik umtukmu. Selalu mendoakan akan kesehatanmu segera.
Bersabarlah, kuatkan hatimu. Ini adalah jalan hidup dan bagian dari proses pendewasaan yang memang harus kau jalani. Berfikirlah baik, agar sistem imunmu berangsur pula membaik. Jangan berfikir yang tidak-tidak.
Ayah ibumu, juga saudara-saudaramu, dan siapa saja yang sempat menyaksikan video tersebut pasti juga tak luput tuk mendaokan kesembuhanmu. Semoga kau akan tumbuh menjadi anak yang kuat, dan sehat di kemudian hari.

Tugas Sebagai Guru


Saat Guru Menjadi Sosok Ibu Pengganti Di Sekolah
Hari Ibu di negara kita lazim diperingati setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Awal mula peringatan ini bermula dari masa kepemerintahan Presiden Soekarno pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928 di bawah Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1953. Tidak hanya di negara kita, negara-negar tetangga juga punya momen peringatan hari ibu juga.
Peringatan hari ibu, tentu dimaknai untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Alasan lainnya adalah untuk menghargai jasa para pahlawan wanita yang telah berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia. Dan tentunya peringatan hari ibu sebagai momen untuk menghargai dan menghormati jasa seorang ibu yang begitu besar. Jasa yang tak akan tergantikan dengan apa pun di dunia ini.
Sosok orang tua bagi seorang anak, idealnya didampingi oleh ayah dan ibunya dalam masa tumbuh dan kembangnya. Kehadiran dua sosok ini tentunya membawa peran dan fungsi yang berbeda. Bersinergi dengan fungsi dan peran masing-masing untuk sama-sama bahu membahu membesarkan buah hatinya.
Ibu dengan segala kelembutannya, kecintaan, kehangatan, kelembutan, kebaikan, keceriaan, cinta dan kasih sayangnya memberikan kehangatan dan buaian khasnya yang penuh dengan kefeminimannya. Dan hadirnya seorang ayah dalam keluarga selain tentunya sebagai kepala keluarga juga membantu anak dalam pembentukan jiwa kepemimpinan, kemandirian dan masih banyak peran lain yang disumbangkan oleh seorang ayah. Bahkan sosok seorang ibu, merupakan guru dan sekolah/madrasah  pertama bagi putera-puterinya.
Pendidikan terbaik bagi seorang anak idealnya didapatkan  sejak dini dari ibunya, Pendidikan ini mampu menciptakan ruang lingkup yang cerdas bagi anak dalam bermasyarakat dan mampu menjadi pemimpin hebat di kemudian hari.
Namun kehadiran dua sosok penting bagi seorang anak ini, tidak selamanya ada dan selalu ada. Karena satu dan lain hal, salah satu dari mereka atau bahkan keduanya kerap tidak ada dalam kurun waktu seorang anak dibesarkan. Adakalanya kehadiran salah satu peran dalam keluarga atau mungkin kehadiran dua sosok peran penting tersebut, terpaksa digantikan oleh yang lain. Bisa oleh keluarga terdekat, ataupun mungkin dengan orang lain sekalipun yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali.
Sekolah atau madrasah sebagai rumah kedua bagi peserta didik tentu diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman layaknya mereka tengah berada di rumah. Kehadiran bapak ibu guru tentu saja juga sebagai pengganti ayah dan ibu mereka selama berada di sekolah/madrasah.
Peran yang diemban oleh bapak ibu guru tentu bukan peran main-main. Sebagai seorang pendidik dan pengajar, tentu seorang guru diharapkan mampu memberikan nilai-nilai dan tauladan yang baik bagi peserta didiknya.
Terkait dengan peringatan hari ibu, lalu bagaimana peran seorang ibu guru di sekolah/madrasah sebagai sosok pengganti ibu bagi mereka?Guru yang dicintai oleh anak didiknya tentu dapat berperan sebagai penggantikedua orang tua mereka selama berada di sekolah/madrasah. Dan tentunya terlebih bagi mereka yang mungkin kehilangan sosok ayah dan ibu mereka di rumah. Seperti halnya anak-anak lain yang tengah tumbuh dan berkembang, para peserta didik tentunya juga membutuhkan kasih sayang dan teladan yang baik untuk perkembangan jiwanya.
Pembelajaran yang penuh dengan suasana kehangatan, keramahan bagi semua peserta didik tanpa terkecuali, nyaman dalam menyampaikan pendapat, dan bahkan dapat menciptakan suasana yang tidak membuat peserta didik takut untuk salah, karena mereka paham akan tidak akan terjadi pembiaran akan kesalahan dan kekeliruan yang mereka lakukan. Layaknya seorang ibu bagi anak-anaknya, kehadiran seorang guru terutama ibu guru tentu menjadi penyeimbang dalam tumbuh kembang peserta didik selama berada di sekolah/madrasah.
Penulis yang notabene sebagai seorang pengajar juga tentunya masih harus banyak belajar dalam mendampingi para peserta diidk yang tentunya penuh dengan keberagaman. Masih banyak hal yang harus penulis pelajari untuk mampu memberikan rasa nyaman kepada para peserta didik tanpa harus bersikap berat sebelah hingga terkesan pilih kasih. Dan tentunya sebagai seorang pengajar, jujur justru dari merekalah penulis banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang tentunya sangat berharga.
Kehadiran mereka yang mungkin tidak seberuntung hidup penulis semasa menjadi kanak-kanak tentu menjadi bahan pembelajaran yang sangat berharga dalaam rangka membantu memahami dan menyelami kehidupan mereka. Patut bersyukur atas segala kenikmatan yang ternyata masih banyak peserta didik penulis yang kurang beruntung dibandingkan diri penulis.
Menjadi sosok ibu pengganti buat mereka tentulah hal terindah yang semoga dapat menjadi salah satu sebab perantara nanti penulis dapat menuju firdaus Nya. Tulisan ini sengaja penulis goreskan tentang peran guru, khususnya para ibu guru di sekolah/madrasah dalam rangka memperingati hari ibu 22 Desember ini.
Semoga kehadiran ibu guru di sekolah/madrasah dapat menggantikan sementara waktu sosok ibu yang baik bagi sebagian anak yang mungkin kurang beruntung dalam kehidupannya karena sudah tidak memiliki ibu lagi. Dan tentunya sebagai pengingat bagi kita yang masih bisa memanggil sosok perempuan hebat yang telah melahirkan kita dengan panggilan ibu.
Selamat hari ibu, semoga peran ibu sebagai soko guru pertama dalam keluarga tak akan pernah lekang dimakan zaman. Tidak ada teknologi canggih apapun yang dapat menggantikan kelembutan, cinta kasih dan sayang yang di dapat dari seorang ibu. Selamat hari Ibu untuk sema ibu hebat dimanapun berada. Bahagianya Allah menakdirkan menjadi seorang ibu yang merupakan wujud malaikat tanpa sayap yang hadir kedunia.
















Kekuatan Doa Seorang Ibu


Tuhan tahu mana yang  terbaik bagi umat-Nya. Sekalipun di awal-awal bukanlah hal mudah untuk bisa menerima dan memaknainya sebagai sebuah takdir yang memang sudah seharusnya dan selayaknya kita terima.
Seribu ungkapan untuk sekedar menasehati diri sendiri pun rasanya tak ubah bagai menelan buah berduri. Hal yang manusiawi dan sangat lumrah penulis rasa, mungkin diluar sana banyak juga yang mengalami seperti apa yang penulis rasakan. Atau bahkan mungkin dengan cerita dan kisah yang lebih menyayat hati namun justru menginspirasi siapa saja yang membacanya. Kita tak pernah tahu jalan dan lakon seperti apa yang akan kita perankan ke depan.
Tak pernah terbayangkan sedikitpun keinginan untuk menjadi seorang guru. Sebuah pekerjaan yang tentunya sangat mulia, Namun tak pernah terbersit sedikit pun untuk menggelutinya. Bahkan sampai pada akhirnya penulis pun jatuh cinta dibuatnya.

Kekuatan doa seorang ibu ternyata sungguh luar biasa. Berawal dari masuk ke bangku pertama di sekolah menengah tingkat  atas saat itu, sebenarnya keinginan ibu untuk menjadikan penulis sang anaknya kelak menjadi seorang guru sudah tercetus. Namun layaknya anak pada usia penulis saat itu, keinginan itu selalu penulis tentang.
Seperti halnya anak-anak lain saat itu, penulis pun mempunyai cita-cita tersendiri. Yang tentu saja sangat bertolak belakang dari keinginan kedua orang tua. Berawal dari keinginan pada saat SMA (Sekolah Menengah Atas) ingin memperdalam ilmu- ilmu sosial yang kurang bahkan sangat ditentang oleh kedua orang tua.
 Mungkin karena kedua orang tua penulis juga berasal dari kajian ilmu-ilmu eksakta. Akhirnya masuklah penulis  ke jurusan A2 (program imu biologi), seperti yang mereka harapkan. Tak banyak kendala atau halangan selama menempuh bangku sekolah di SMA. Semua berjalan seperti seharusnya. Hingga masa menjelang kuliah pun sudah di depan mata.
Keinginan ibu untuk meminta penulis berkuliah di Fakultas Keguruan penulis tentang habis-habisan. Tak ada keinginan sedikitpun untuk menjadi seorang guru. Tak lain dan tak bukan saat itu keinginan penuli adalah menjadi seorang jurnalis.
Ujian masuk perguruan negeri pun penulis ikuti layaknya semua calon mahasiswa yang lain. Ntah apa yang menjadi dasar pemikiran saat itu, hinggga penulis  memutuskan mengambil Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Tanah.
Suatu jurasan yang agak langka. Karena tidak semua perguruan tinggi memiliki jurusan ini. Seingat penulis saat itu, dari seluruh Indonesia, baik perguruan tingi negeri maupun swasta hanya ada 19 perguruan yang mempunyai jurusan ilmu tanah.
Masuk di Fakultas Pertanian khususnya Jurusan Ilmu Tanah, sedikit banyak mampu mewujudkan keinginan penulis yang semakin menggebu-gebu menggeluti dunia jurnalis. Di jurusan ini, kami sering melakukan kegiatan lapang dan tentu saja hal ini sangat menantang bagi penulis. Belum lagi berkenalan dengan segala aktivitas kegiatan kemahasiswaan di kampus, makin membuat semangat menjadi seorang wartawan semakin menjadi. Walaupun keinginan untuk menjadi wartawan, sempat menorehkan kenangan pahit dalam urusan asmara penulis diputuskan oleh kekasih hanya karena keinginan penulis yang bulat tuk jadi seorang jurnalis.
Lalu….bagaimana akhirnya penulis bisa menjadi guru…mungkin berawal dari kompromi dengan situasi dan keadaan yang saat itu sangat tidak bersahabat. Duduk diam hanya menjadi seorang ibu dari seorang balita ternyata sangat menjenuhkan juga. Mejalani rutinitas harian yang bagi penulis sungguh sangat melelahkan, Mungkin lebih tepatnya menjenuhkan. Akhirnya dengan tekad bulat, penulis memberanikan diri untuk melamar menjadi seorang guru pada sebuah sekolah yayasan yang saat itu ada di dekat rumah.
Sangat menyadari bahwa penulis bukanlah seorang lulusan sarjana pendidikan, saat itu pula penulis putuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Terbuka untuk mendalami ilmu kependidikan. Tidaklah mudah memang mengenyam kembali masa-masa perkuliahan yang sarat akan tugas di tengah-tengah kesibukan menjadi seorang ibu baru bagi seorang anak balita pula.
Kadang kala butuh kenekatan dalam menjalani hidup. Bagaimana tak nekat..tak banyak bekal yang penulis miliki untuk menjadi seorang guru. Kecuali sedikit pengalaman menjadi asisten praktikum laboratorium selama menjadi mahasiswa dan sedikit pengalaman menjadi guru dadakan selama menjalani masa kuliah kerja nyata (KKN) selama kurang lebih tiga bulan lamanya.
Proses melamar untuk menjadi guru tak memiliki banyak hambatan. Tak sesulit saat ini untuk menjadi seorang guru honorer sekalipun, Karena saat itu memang belum banyak program tunjangan yang ditawarkan pada guru oleh pemerintah. Bahkan tak tanggung-tanggung, dua sekolah sekaligus yang menerima penulis menjadi seorang guru honorer.
Betul-betul pengalaman dan kesempatan yang sangat berharga saat itu bagi penulis. Satu kegiatan baru yang sungguh sangat memberikan warna baru dalam menjali hidup. Tidak hanya rutin menjalani tugas rutin menjadi seorang ibu rumah tangga, tapi juga ada wadah baru untuk bisa melakukan interaksi.
Tahun demi tahun penulis jalani profesi menjadi seorang guru ternyata sungguh sangat menyenangkan. Tak hanya menyenangkan, bahkan sudah mampu membuat penulis jatuh cinta.
Jatuh cinta pada profesi yang sama sekali dulu tak pernah terbesit dalam benak penulis. Memikirkannya saja dulu membuat penulis sangat muak. Tapi kini menjadi bagian hidup penulis yang Insya Allah tak akan terpisahkan
Penulis bangga dan bahagia menjadi seorang guru. Pada dasarnya setiap individu adalah seorang guru. Bukan hanya seseorang yang dengan profesinya mengajarkan anak didiknya dalam sebuah ruangan saja yang disebut seorang guru. Semua orang adalah guru, tanpa kita sadari atau tidak. Terutama bagi seoarang perempuan. Ibu adalah sekolah atau madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tanpa terkecuali..
Belajar menjadi barisan pengikut Umar Bakrie memang bukanlah perkara mudah bagi penulis. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan segala administrasi yang sangat-sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran. Jujur saja, walaupun penulis sangat mencintai profesi penulis sekarang ini, dalam hal yang berhubungan dengan segala administrasi penulis masih sangat jauh dari kata bisa.
Mengapa penulisbangga menjadi guru?..tanpa penulis sadari, menjadi seorang guru, disanalah penulis belajar yang sesungguhnya tentang arti bersyukur. Selama ini penulis menjadi pribadi yang mungkin sangat jauh dari rasa syukur. Mungkin karena selama ini begitu banyak kemudahan yang dapat penulis peroleh. Tak banyak kesusahan dan keprihatinan yang harus penulis jalani dalam hidup. Sangat tidak menarik andai dibuat sebuah cerita dalam buku. Karena hidup yang  saya jalani relativ datar tak banyak beriak hidup yang penulis temui.
Memang juga bukan suatu hal yang perlu disesali atau apalah istilah yang tepat untuk menjabarkannya. Kita tak pernah bisa memilih, kepada siapa kita ingin menjadi seorang anak. Atau kepada siapa kita ingin mempunyai orang tua. Kita pun tak bisa memilih siapa orang tua kita. Namun satu hal yang bisa penulis pahami, kita bisa memilih mau jadi apa kita dalam menapaki masa depan kita. Terlahir dari keluarga yang lumayan cukup secara ekonomi rasanya tak sulit bagi penulis dalam menjalani hidup. Tak banyak keprihatinan yang berkaitan dengan kehidupan. Semua berjalan lancar,tanpa hambatan yang berarti.
Sungguh sangat jauh berbeda dengan apa yang sering penulisamati sekarang. Dalam hidup penuls dengan pekerjaan sebagai seorang  guru. Banyak hal  justru menyadarkan penulis akan makna syukur yang penulis pelajari justru dari murid-murid penulis sendiri.
Bertahun-tahun penulis mengamati dan meresapi segala hal yang sering penulis amati dari kehidupan mereka. Betapa sebenarnya penulis merupakan orang yang sangat beruntung hidup dibawah mega nan biru ini. Tak banyak kesulitan dan kepahitan hidup yang harus penulis rasakan.
Sangat-sangat jauh berbeda dari apa yang mereka alami.Banyak dari meraka yang secara perekonomian masih dibawah rata-rata. Pendidikan orang tua mereka pun juga masih sangat minim. Sudah dapat bersekolah di masa wajib belajar saja, sudah jadi barang  mewah buat mereka. Banyak hal yang dapat penulis pelajari dari kehidupan murid-murid penulis. Selain keadaan perekonomian yang bisa dikatakan  dibawah garis kemiskinan, banyak dari mereka yang kehidupan keluarganya yang sudah tak utuh lagi.
Banyak diantara keluarga mereka, ayah ibunya yang harus bercerai karena satu dan lain hal. Belum lagi ada yang harus jauh dari orang tua karena orang tuanya harus merantau, sedangkan mereka hanya hidup dalam asuhan nenek kakeknya saja atau saudara yang lain. Begitu banyak hal yang bisa penulis pelajari dari mereka murid-murid penulis.
Terima kasih anak-anak, betapa kalian sudah mampu menyadarkan keangkuhan penulis yang lupa untuk bersyukur ini. Ternyata, betapa sangat beruntungnya hidup penulis ini. Hingga detik ini, penulis masih bisa merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap (hingga awal tahun 2019). Masih ada orang tua yang selalu mendoakan penulis disetiap hela nafasnya. Bersyukur masih ada orang tua yang selalu menanyakan kabar penulis. Bersyukur masih ada orang yang selalu meridukan penulis. Terima kasih anak-anak…tanpa kalian semua, rasanya tak mungkin kesadaran itu bisa penulis raih.
Bersyukur rasanya bisa menjadi pengikut Umar Bakrie. Tuhan sudah merencanakan semua dengan indahnya. Tak ada hal yang kebetulan, semua sudah digariskan dengan indahnya. Dan satu hal yang pastI, doa ibu sangat luar biasa. KinI dengan penulis menjadi guru, tanpa penulis sadari telah bisa mewujudkan cita-cita seorang Ibu. Menjadi guru sungguh sudah menjadi bagian hidup yang tak mungkin bisa penulis lepas Saat ini. Walaupun penulis menyadari masih sangat jauh dari kata sempurna. Bukankah memang ketidaksempuranaan adalah kesempurnaan itu sendiri.
Dan satu hal yang tak pernah penulis duga, keinginan terdahulu penulis untuk bergelut dalam bidang jurnalistik pun kini Allah berikan bersamaan dengan profesi yang kini penulis jalani menjadi seeorang guru. Berbekal kenekatan dan keberanian, mencoba menuliskan berita seputar kegiatan-kegiatan yang ada di seputar madrasah membuat penulis menjadi begitu larut dalam kegiatan pemberitaan.       
Bergabung bersama dengan rekan-rekan lain sebagai kontributor berita Inmas Kemenag Kabupaten Sukabumi seakan menjawab doa-doa penulis dimasa lampau untuk kembali bersentuhan dengan dunia kuli tinta.
Sungguh karunia yang tak dapat dilukiskan dengan indahnya rangkaian seribu kata dan kalimat sekalipun. Betapa Allah telah menyiapkan rencana yang begitu indah buat penulis. Menjadi seorang guru untuk mengabulkan keinginan seorang ibu terhadap anaknya, juga menjadi seorang jurnalis pemula demi melakoni peran yang sempat tertunda.
Terima kasih waktu yang masih terus memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar menjadi seorang guru. Semoga keputusan untuk menjadi seorang guru adalah hal terbaik yang bisa penulis lakukan. Semoga penulis masih terus bisa istiqomah dengan keputusan mulia ini. Semoga ini adalah pilihan terbaik yang bisa penulis jalani. Bukan saja pekerjaan dunia saja, namun juga pekerjaan mulia yang akan penulis bawa hinga akhirat nanti. Pekerjaan yang menjadi jawaban atas terkabulnya doa seorang ibu pada anaknya. Terkabulnya permintaan seorang ibu yang langsung di dengar oleh sang empunya kuasa.
Terima kasih  waktu yang sudah menggiring penulis untuk menjadi guru. Penulis  bangga menjadi guru, dengan menjadi guru, penulis bisa memahami makna hidup dan kehidupan yang sesungguhnya…(buat mantan, akhirnya aku jadi guru juga, seperti yang pernah kau inginkan)



Ketika Tangan Kanan Diberi Kesempatan Berada Di Atas


Hidup ini adalah kesempatan...Jangan sia-sia kan apa yang Tuhan beri...Hidup ini harus jadi berkat..
Sepenggal lagu rohani yang sekiranya mampu menginspirasi apa yang bisa kita perbuat selagi masih ada kesempatan. Bahwa hakikat nya hidup adalah kesempatan kita untuk saling berbagi. Memberikan kesempatan dan berbagi pada sesama adalah hal mulia yang sebisa mungkin  kita lakukan. Terlebih bagi seorang pendidik dan pengajar di madrasah.
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari para pejuang inklusi di lingkup Kemenag Kab. Sukabumi. Meski mereka bukan terlahir sebagai guru yang menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK), semangat mereka dalam menimba ilmu perlu kiranya untuk di teladani.
Berbicara tentang ABK awalnya selalu terbayang anak-anak dengan kondisi tubuh yang sedari lahir atau karena suatu kondisi tertentu mengalami ketidaksempurnaan. Sehingga mereka hidup dalam keterbatasan. Yang sering kita menganggapnya dengan istilah anak normal dan tak normal. Padahal parameter normal dan tak normal itu sendiri adalah abstrak. Apakah kita juga normal? Apakah batas tingkat kenormalan itu? Apakah karena mengangap diri kita mampu berbicara, melihat dan sebagainya?...tidak….tak ada parameter yang jelas yang mengklasifikasikan tingkat kenormalan itu sendiri.
Ternyata semua itu salah besar. ABK adalah semua anak, tanpa terkecuali yang butuh pemdampingan atau pendidikan secara khusus. ABK terbagi menjadi dua kelompok, ada ABK permanen (kerena terlahir dengan kondisi tertentu, anak dengan kelainan fisik tertentu), yang sering kita sebut juga dengan penyandang disabilitas atau ABK temporer (mereka menjadi ABK karena kondisi tertentu, misalnya anak-anak korban bencana alam, sakit, anak-anak korban perceraian orang tua dll).
Pada dasarnya semua anak terlahir hebat. Ibarat kertas putih kosong, tergantung akan seperti apa orang tua nya akan menuliskan rona hidupnya dan mewarnai perjalanan hidup mereka. Namun tidak semua anak terlahir dengan nasib yang baik. Bahkan sering kita temui ABK terlahir dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu, hingga pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan layaknya anak-anak yang lain tak dapat mereka nikmati. Tapi…tak jarang juga kita temui anak ABK terlahir dari keluarga yang cukup mapan. Namun keberadaan mereka masih dianggap sebuah aib yang memalukan, hingga jarang dari mereka yang mendapatkan pendidikan yang seharusnya.
Berbicara tentang pendidikan, anak-anak ABK baik yang permanen maupun temporer berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik. Terlepas dari seperti apa kondisi mereka. Tidak perlu adanya pemisahan terhadap gaya dan pola belajar diantara anak ABK dan non ABK.
Sekolah inklusi adalah suatu upaya untuk menjembatani adanya keberagaman ini. Sekolah inklusi adalah salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk memberikan kesempatan dan pelayanan terbaik untuk anak-anak ABK. Sepintas mungkin masih terdengar awam ditelinga, terutama bagi yang tinggal dipelosok. Sekolah insklusi hadir sebagai upaya bagaimana belajar cara hidup dengan perbedaan, belajar dari perbedaan dan belajar dengan perbedaan.
Memberikan kesempatan dan peluang yang sama terhadap anak ABK adalah hal wajib yang perlu kita laksanakan, agar mereka juga mampu mandiri dan berdikari layaknya anak-anak non ABK. Sudah banyak anak ABK yang mendapatkan pendidikan yang layak hingga pada akhirnya mereka mampu menatap masa depan mereka dengan cerah. Sudah banyak diluar sana, anak-anak ABK yang berhasil dalam pendidikannya. Mereka mampu menjadi seperti apa yang mereka cita-citakan. Bahwa semua anak terlahir hebat…semua anak adalah permata yang sangat berharga, seperti apapun kondisi mereka.
Berbicara tentang pendidikan inklusi, adalah berbicara tentang keadilan. Yang tidak perlu memarjinalkan anak ABK permanen maupun temporer. Pendidikan inklusi adalah sebuah proses yang mulia. Tidak bisa hanya dilihat dari segi keunggulan akademis semata. Sekolah insklusi  bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan apa yang ada pada anak ABK. Inklusi adalah belajar mengakui adanya perbedaan dan mengakomodir perbedaan itu. Bukankah pada dasarnya kita memang terlahir dengan segala perbedaan….perebedaan suku, agama, ras, dan sebagainya. Termasuk kehadiran anak ABK adalah bagian dari keberagaman itu sendiri.
Semua anak terlahir dengan fitrahnya masing-masing. Semua anak terlahir hebat. Namun seringkali ketidaktahuan kitalah, yang justru mengkerdilkan kehadiran mereka selaku generasi penerus negeri ini. Di pundak mereka lah, nasib kita kelak akan bergantung.
Keberadaan anak-anak istimewa di madrasah umum merupakan satu tantangan tersendiri yang perlu kita hadapi. Semua anak berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sama, tanpa terkecuali. Sepak terjang dan kiprah madrasah-madrasah di bawah naungan Kemenag Kab. Sukabumi selama dua tahun terakhir ini perlu kiranya adanya dukungan dan apresiasi yang setinggi-tinggi nya dari semua pihak.
Dukungan pihak-pihak lain seperti SLBN Handayani yang beralamat di Karang Tengah Cibadak Sukabumi, Yayasan Lentera Rainbow, dan LPT Grahita Indonesia yang selama ini setia mengawal progres PI di Kab. Sukabumi tentu adalah aset yang tak ternilai harganya. Ketiga lembaga tersebut selama ini menjadi pusat belajar bagi segenap GPK yang berada di bawah naungan Kemenag Kab. Sukabumi.
Dan tentu nya, semangat daya juang para penggiat PI di madrasah yang terhimpun dalam GPK Pokja PI Kemenag Kab. Sukabumi adalah ujung tombak dari semua proses yang ada. Secara kompetensi, mereka memang masih harus banyak belajar. Sambil menyelami segala materi yang memang masih perlu dicerna, tindakan nyata lah yang menjadi skala prioritas terlebih dahulu. Uluran tangan dari para GPK di wilayah kerja masing-masing adalah skala prioritas dalam menangani para peserta didik di madrasah. Namun satu hal yang patut kita acungi jempol, semangat kasih dan sayang mereka dalam membimbing anak-anak dengan kebutuhan khusus di madrasah adalah hal yang luar biasa.
Terlepas dari keterbatasan sarana dan prasarana dalam menunjang pelaksanan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus, semangat dan etos kerja dari para GPK tak perlu lagi disangsikan keberadaan nya. Bahkan jauh sebelum gaung PI di dengungkan awal 2017 yang lalu, tindakan nyata para guru madrasah dalam penanganan peserta didik dengan kebutuhan khusus sudah tak perlu diragukan lagi. Tindakan nyata di lapangan jauh lebih dibutuhkan saat ini, dibandingkan hanya sekedar retorika belaka.
Meminjam kalimat bijak dari Mahatma Gandhi, pada hakikatnya kebahagiaan adalah bukan dari seberapa banyak yang dapat kita peroleh, namun seberapa banyak hal yang dapat kita beri. Sungguh sebuah pengabdian yang luhur atas segala dharma bakti para pengikut barisan Oemar Bakrie ini.
Semangat terus para pejuang PI. Semoga segala ikhtiar yang tengah dilakukan hari ini betul-betul dapat membantu meningkatkan kualitas hidup para peserta didik dengan kebutuhan khusus. Jika bukan sekarang...kapan lagi,dan jika bukan kita yang perduli, siapa lagi...Mari bersama menuju Sukabumi yang lebih baik dalam wadah Madrasah Hebat Madrasah Bermartabat...

Rabu, 01 April 2020

Mengapa Anakku Berbeda


Menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah yang pasti diinginkan oleh setiap perempuan. Apalagi dikarunia anak yanng sehat tak kurang suatu apapun. Tulisan ini ku buat sebagai dedikasi tinggi buat ayah bunda diluar sana yang mempunyai anak istimewa.
Tak ada satu pun orang tua yang membayangkan akan mempunyai anak yang berbeda dari yang lain. Butuh ruang dan tertentu untuk bisa menerima sebuah anugerah istimewa tersebut.  Seperti halnya ibu-ibu muda lainnya saat itu, menanti sebuah kelahiran tentu menjadi momen yang penuh dengan teka-teki dan penantian yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Namun ternyata waktu kelahiran itu tak jua kunjung datang. Bahkan hitungan medis pun usia kehamilan 40 minggu masih juga belum menunjukkan tanda-tanda persalinan.
Tidak ingin menangggung resiko atas keselamatan ibu dan bayi yang tengah dikandung, aku pun melakukan konsultasi pada dokter tempat ku biasa melakukan cek kehamilan. Dokter menyarankan untuk mengeluarkan paksa bayi dengan jalan operasi bedah ceasar. Biaya dan mental pun akhirnya kami siapkan.
Atas saran dari seorang sahabat, yang kebetulan juga beberapa bulan sebelumnya juga melakukan bedah cesar, akhirnya aku  melakukan pindah dokter tempat sahabatku juga melakukan tindakan bedah operasi cesar. Aku pun akhirnya mengunjungi klinik bersalin yang ada di Ibu Kota Kabupaten.
Dari serangkaian konsultasi dengan dokter kandungan senior di klinik bersalin tersebut, diputuskan untuk melakukan tindakan induksi. Dokter tersebut tidak langsung memutuskan tindakan bedah, namun dicoba proses kelahiran normal dengan tindakan induksi terlebih dahulu.
Serangkaian tindakan induksi ku jalani setiap tiga puluh menit sekali selama 4 kali. Dari pukul 09.00 hingga pukul 10.00 wib tindakan induksi dengan empat kali suntikan baru berakhir. Tepat enam jam kemudian, reaksi induksi pun baru bekerja. Dan inikah rasanya yang namanya melahirkan...
Menanti pergantian waktu menjelang persalinan seakan-akan jarum jam enggan untuk bergerak. Menit demi menit pun kunikmati dengan menahan rasa sakit akibat proses induksi yang luar biasa. Hampir satu jam setengah lamanya kumenahan sakit yang tiada henti, hingga lahirlah bayi perempuan mungil itu.
Sedikit berbeda dengan bayi-bayi lain pada umumnya, bayiku tak langsung menangis. Ada sedikit jeda waktu untuk membuat bayi kecilku menangis. Dari beberapa bacaan yang telah kupelajari, aku hanya berharap, semoga tidak terjadi apa-apa dengan bayi mungilku.
Lahir dengan kondisi sehat tanpa kekuragan satu apapun. Dengan berat 3250 gram dan panjang 50 cm, bayiku nampak sama dengan bayi-bayi lain yang ada diruang perawatan bayi.
Yang sedikit membedakan hanyalah, dia tak langsung menangis saat kulahirkan dan banyaknya tanda lahir yang ada di badan mungilnya. Tanda lahir merah dan hitam yang ada di badan kecilnya.
Selang beberapa hari setelah pemullihan di klinik bersalin tersebut, aku pun diperbolehkan pulang.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bayi kecilku tumbuh sehat seperti bayi-bayi yang lain.  Menginjak usia satu tahun belum ada tanda-tanda anakku akan segera berjalan. Teman-teman seusianya mulai banyak yang belajar jalan. Hingga usia anakku 22 bulan, barulah ia berani berjalan. Banyak pengobatan tradisional dan dokter yang kami tempuh untuk mengupayakan anakku cepat berjalan. Namun semua mengatakan memang belum waktu nya.
Sebagai seorang ibu, tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri dan menjadi pemikiran akan hal ini. Tanganku hanya 2, tak mungkin mampu menutup mulut banyak orang yang begitu mudah memvonis atas keterlambatan anakku berjalan.
Anakku memang terlambat berjalan, namun aku yakin dia punya satu keistimewaan lain, yang mungkin anak lain tak memilikinya.
Sedari kecil aku mengajarinya untuk mengenal huruf. Saat itu yang ada dalam benakku adalah, biarlah anakku belum bisa lari melihat dunia saat ini, namun ia akan tetap dapat lari menikamati dunia melalui bacan-bacannya. Sejak saat itu aku rajin mengajarinya mengenal huruf, kata dan kalimat.
Dari apa yang aku ajarkan sedari ia bayi, sepertinya meninggalkan jejak ketika ia mulai memasuki bangku sekolah. Diusianya memasuki 4 tahun, aku memasukkanya ke bangku taman kanak-kanak. Tiga bulan pertama ia masuk dibangku taman kanak-kanak, gadis kecilku itu telah pandai membaca. Rangkaian kata menjadi kalimat bukan hal aneh lagi dimatanya.
Maka tak heran, ketika teman-temannya baru mengenal abjad, gadis kecilku sudah mulai membaca salah satu majalah anak-anak yang cukup ternama di negeri ini.
Lagi-lagi aku menganggap orang begitu mudah dalam memvonis sesuatu. Diusianya yang berangsur besar, kondisi badannya tak lagi sebesar saat ia balita. Badannya yang kecil tinggi, sempat divonis kurang gizi oleh petugas kesehatan yang berkunjung ke rumah. Perdebatan yang lumayan sengit pun sempat aku lakukan sebagai bagian protesku atas vonis yang diberikan. Tidak ada rangkaian tes yang dilakkukan,namun dengan begitu mudahnya mencap gadis kecilku sebagai anak yang kurang gizi. Lagi-lagi sempat aku merasa betapa dunia tak berpihak padaku.
Apakah parameter sehat hanya dilihat dari porsi tubuhnya yang besar saja? (baca : gemuk). Sedangkan anakku sangat sehat. Geraknya tetap lincah, celotehnya ramai, matanya berbinar terang, hanya karena ia tak mampu berlari dan melakukan gerak motorik kasar lainnnya selincah teman-teman kecilnya yang lain.
Bahkan kemampuan membacanya jauh diatas anak-anak lain sebayanya. Hal-hal yang sempat kulontarkan tak cukup mampu menghapus stiker anak kurang gizi yang akhirnya dilekatkan di jendela rumah kami. Dan satu hal, sampai hari ini kemampuan motorik kasarnya tidak sebaik teman-temannya yang lain. Serta telapak kakinya yang selalu tak pernah hangat seperti umumnya yang lain.
Kini gadis kecilku itu telah beranjak dewasa. Sekarang ia telah duduk dibangku kelas XII di sebuah aliyah di kota kami. Sekarang kemampuannya dalam berliterasi baru sebatas keinginannnya yang kuat dalam membaca. Buah dari apa yang aku tanamkan sejak kecil mulai terlihat hasilnya.
Walau kemampuan literasinya baru sebatas membaca dan memahami isi bacaan, namun ini sudah merupakan sebuah karunia yang perlu aku syukuri selalu. Kegemaran membacanya sekarang terpatri dalam koleksi novel-novel bacaannya yang sudah mulai menggunung.
Setiap bulan, saat ini sebisa mungkin aku baru bisa memfasilitasi membeli dua hingga tiga novel. Novel dengan ketebalan rata-rata 200 halaman telah menjadi sahabat setianya mengisi waktu. Semoga kedepan, ia akan mampu menambah kemampuannya dalam berliterasi dengan kemampuan menulis. Biarlah saat ini ia masih dalam taraf belajar membaca dan membaca untuk belajar. Semoga kelak apa-apa yang pernah dibacanya akan menjadi amnunisinya dalam menulis.
Setiap anak pasti akan membawa ceritanya masing-masing. Sempat aku juga bertanya-tanya, mengapa anakku berbeda dari yang lain..
Menyadarinya saja bukanlah jalan keluar setelah kita mampu untuk menerima kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa anakku berbeda dari yang lain. Justru kemampuan kita untuk bangkit mencari peluang untuk mengisi kekosongan yang ada adalah hal terbesar yang harus segera kita lakukan berikutnya.
Setiap anak adalah anugerah, setap anak akan membawa ceritanya masing-masing. Dan semua anak adalah karunia hebat yang Tuhan berikan buat kita orang tuanya. Tak ada mahluk Tuhan yang gagal. Justru ketidak tahuan kitalah yang sering mengkerdilkan beragam mahluk ciptaan NYA.
Cerita sekelumit tentang gadis kecilku tentu bukanlah apa-apa dibandingkan perjuangan ayah bunda hebat lain yang ada diluar sana. Bergabung dalam komunitas dengan persamaan cerita yang sama adalah salah satu solusi yang dapat kita peroleh untuk dapat menguatkan peran yang tengah kita jalani.
Dan tentu nya ada sedikit harapan yang kalau boleh terucapkan. Untuk ayah bunda yang tak pernah berada dalam posisi kami, janganlah terlalu mudah dalam menjudge sesuatu yang belum tentu tau secara detail bagaimana perjuangan kami. Kami pun tak mungkin mengkoarkan apa yang memang telah menjadi tugas dan tanggung jawab kami.
Namun, sekali lagi itu hanyalah harapan dari sedikit orang tua yang kebetulan punya anak yang istimewa. Semoga dengan sedikit coretan ini, dapat lebih menyadarkan kita untuk lebih dapat menjaga hati dari orang tua hebat seperti mereka.

Balada Lamban Belajar


Begini rasanya menjadi golongan yang lamban belajar. Tertatih, terseok, terjerembab, bahkan hampir-hampir saja putus asa. Untungnya masih tersisa rasa penasaran yang begitu besar, hingga pada titik bangkit penulis harus mulai lagi. Lantas, apakah akan langsung berjalan mulus tanpa hambatan? Tentu tidak...butuh waktu untuk berproses walau perlahan dan mungkin sangat lamban untuk bisa memahaminya.
Konsistensi dan komitmen yang kuatlah kiranya yang mampu menjadi pendobrak semangat selama kurang lebih tiga empat hari belakangan ini. Laksana bocah kecil yang baru saja memiliki mainan barunya, rasanya terus-terusan ingin selalu melihat dan melihatnya lagi.
Belajar menulis, nyatanya bak candu yang dapat memabukkan. Yang penulis rasakan, inilah salah satu media yang akan menjadi sahabat sejati mendengarkan keluh kesah dan segudang cerita dan pemikiran-pemikiran yang mungkin tak bisa sembarang orang untuk bisa menerima dan memahamiunya.
Dan penulis percaya, kekuatan goresan pena akan jauh lebih mengena dan terasa dibandingkan dari sayatan sebilah pedang sekalipun. Bersykur selalu bertemu dengan pihak-pihak yang sangat memberikan dukungan yang luar biasa. Sebagai seorang guru pada umumnya, penulis yakin kegiatan tulis menulis sebenarnya bukanlah hal asing bagi guru. Namun apakah hal ini sudah kita lakukan dengan baik? Itulah kalimat pertanyaan yang selalu penulis pegang untuk selalu menjadikan alasan untuk cepat-cepat kembali merangkai kata. Apa rangkaian katamu hari ini?

Belajar Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

#KMP3 Ramadhan baru saja usai. Seiring gema takbir yang berkumandang. Nuansa bahagia menyambut hari yang fitri. Berbagai penganan pun dihi...