Senin, 27 April 2020

Tips Membangunkan Si Kecil Sahur Tanpa Drama


Makan sahur adalah rutinitas yang kita lakukan selama menjalankan ibadah puasa. Hal rutin yang mungkin terasa mudah bagi kita yang sudah dewasa dan sudah terbiasa. Namun tidak halnya dengan anak-anak. Terutama adalah anak-anak yang masih belajar puasa.
Teriak..bukan solusi. Apalagi memarahi, bisa jadi makin runyam. Dan tentunya juga bukan solusi yang baik. Lalu apa yang bisa ibu lakukan untuk membantu si kecil bisa bangun untuk makan sahur dengan tidak menggunakan drama-drama ala Korea, India dan negeri antah berantah?.
Beberapa tips yang saya punya mungkin bisa juga sedikit membantu ibu-ibu dengan permasalahan yang sama.
1.      Buat perjanjian. Saat sebelum tidur, usahakan kita melakukan perjanjian dengan anak. Agar, ketika dibangunkan nanti tidak ada drama-drama lagi.
2.      Berikan rewards. Apabila si kecil sudah dapat menepati janjinya, tidak ada salahnya kalau kita sebagai orang tua mengapresiasi usaha yang telah dilakukan si kecil. Apa apresiasi yang bisa kita berikan? Selain ucapan terima aksih, mungkin bisa dengan menyiapkan hidangan buka puasa yang sesuai dengan seleranya.
3.      Siapkan menu makanan dan minuman yang menjadi kesukaan si kecil. Memang sedikit agak ekstra ya untuk di bulan puasa ini. Tapi untuk hasil yang baik, mengapa tidak kita coba.
4.      Jurus pamungkas...ini sih jurus yang terkadang masih saya gunakan juga. Saya sarankan hanya untuk keadaan darurat. Untuk ini mungkin bukan saja hanya untuk si kecil, tapi semua penghuni rumah. Apakah itu? Percepat jarum jam dari biasanya...bisa sepuluh atau lima belasa menit menjelang imsya’. Atau silahkan atur-atur sendiri jam yang bisa mendebarkan siapapun yang melihatnya hahahha...
Semoga hari ini kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Sehat, damai dan berkah penuh dengan limpahan kasih dan sayang-Nya dalam semangat menebar kebaikan..Gusti Mberkahi...

Tantangan #Day5 #RWCODOP2020
#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay5
#Ramadhan2020



Minggu, 26 April 2020

Pie Susu Mini Karya Jemari Si Kecil

Menunggu waktu berbuka itu tentu menjadi waktu yang menyenangkan. Gara-gara di rumah saja selama wabah mendera, mendadak chef pun akhirnya melanda. Dan momen puasa adalah waktu yang paling tepat untuk bereksperimen.

Jangan lupa ajak si kecil untuk ikut bereksperimen ya. Jangan perdulikan mentega, terigu dan yang lain-lainnya berantakan dimana-mana. Yang penting bisa menciptakan suasana bahagia buat anak-anak. Dan tentunya kegiatan masak –memasak juga melatih kemampuan motorik halusnya.

Menyiapkan sajian buka puasa kali ini atau biasa yang dikenal dengan istillah takjil, kami akan bereksperimen membuaat pie susu mini. Bukan resep kami sendiri, tapi hasil dari buka-buka situs makanan dan kuliner yang saya lakukan disela-sela rebahan menjadi pahlawan. Rebahan saja kan ga enak, jadi mending berselancar di dunia maya untuk mendapatkan resep praktis, menarik dan tentunya mudah untuk dilakukan.

Dan pilihan pun jatuh pada si mungil kue pie susu. Mengingat kedua bocil adalah penggemar susu. Dan dari resep bahan yang ada pun tidaklah sulit. Semua bahan relatif sudah tersedia di lemari pendingin.

Oke, bahan-abahn yang perlu disipakan adalah :
1. 10 sdm tepung terigu
2. 2 sdm susu cair
3. 5 sdm telur utuh
4. 1 butir telu ayam

Bahan isian :
1. 20 sdm susu kental manis
2. 2 sdm tepung jagung/maizena
3. 2 sdm air
4. Keju untuk taburan/topping

Cara membuat :
1. Campurkan terigu, susu, mentega dan telur. Aduk rata perlahan hingga kalis. Tanda sudah kalis saat adonan sudah lentur tidak mudah robek. Jangan lupa taburi sedikit garam.
2. Cetak adonan dalam wadah pie mini, atau jika punya bisa menggunakan penggorengan berbahan teflon.
3. Tusuk-tusuk permukaan adonan, supaya tidak menggembung saat pemanggangan nanti. Bisa menggunakan garpu.
4. Olesi mentega terlebih dahulu ya wadah cetakan pie nya.
5. Buat adonan isi
6. Campurkan susu, telur, maizena dam air. aduk perlahan. Cukup gunakan kocokan manual dengan tangan saja. Tidak perlu sampai berbusa, asal semua adonan telah tercampur rata.
7. Saring adonan supaya tidak ada bahan yang masih menggumpal.
8. Tuang  bahan isian ke dalam adonan dasar yang sudah ada dalam cetakan.
9. Panggang dalam oven yang sudah terlebih dahulu dipanaskan.
10. Taburkan parutan keju sesaat sebelum diangkat.
11. Angkat pie, jika sudah matang dengan tanda cairan isi sudah kering.
12. Selamat mencoba.
13. Happy baking ya...

Tantangan #Day4 #RWCODOP2020
#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay4
#Ramadhan2020

Sabtu, 25 April 2020

Ngabuburit Di Rumah Saja, Mengapa Tidak? Coba Kegiatan Ini Yuk....


Wabah dari sang virus benar-benar membuat semua elemen kehidupan kita menjadi berubah. Pun demikian halnya saat masa puasa seperti saat ini. Biasanya orang akan banyak yang lalu lalang di jalan saat menunggu waktu berbuka.
Ngabuburit atau istilah menunggu waktu berbuka yang ada di Tanah Sunda merupakan saat yang dinanti terutama oleh anak-anak. Namun, karena situasi yang tidak mengenakkan belakangan ini, maka tak ada lagi ngabuburit untuk puasa kali ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan di rumah untuk menunggu waktu berbuka?
Banyak hal baik tentunya yang bisa kita lakukan di rumah. Misalnya ikut membantu ibu menyiapkan menu sajian berbuka. Mungkin kegiatan ini sudah lama kita tinggalkan. Mengingat pada hari biasa saat puasa, kita banyak disibukkan dengan kegiatan buka puasa bersama dimana-mana.
Kedua, tadarus atau membaca Al-quran. Kegiatan positif ini tentu dapat meningkatkan nilai ibadah kita selama masa stay at home ini. Tidak saja menambah nilai-nilai baik selama puasa, tentunya tadarus dapat semakin menentramkan hati siapa saja yang membacanya.
Ketiga, mengisi kegiatan kultum dalam keluarga. Hal ini bisa menjadi ajang latihan baik bagi sang ayah ataupun anak-anak untuk belajar berbicara di hadapan orang lain. Dengan latiihan kultum di rumah selama Ramdhan, siapa tahu nanti saat masuk sekolah si kecil sudah terampil dan lancar untuk berbicara di depan umum. Menarik untuk di coba kan?
Keempat, membuat kue-kue lebaran. Bukan saja untuk persiapan isi toples di rumah. Tapi juga dapat dimanfaatkan untuk sekalian belajar berwirausaha. Tidak ada salahnya kan. Kalau memang produk yang kita hasilkan memang layak jual...mengapa tidak.
Hal-hal diatas adalah beberapa jenis kegiatan yang dapat kita lakukan untuk ngabuburit selama masa stay at home ini. Tidak saja aman dan nyaman, yang jelas juga punya manfaat baik lainnya. Dari mengasah keterampilan, meningkatkan keimanan, mengasah kemandirian, bahkan sampai mengasah tumbuhnya jiwa wirausaha.
Tak perlu ragu dan malu. Bukankah saat puasa adalah saat kita untuk berbenah diri. Berbenah secara lahir maupun bathin. Ngabuburit tidak selalu juga identik dengan turun ke jalan kan? Yuk...kita coba mulai sore ini.

Tantangan #Day3 #RWCODOP2020
#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay3
#Ramadhan2020


Jumat, 24 April 2020

Isengnya Masa Kecil Kami Saat Itu...


Saat buka puasa adalah saat yang selalu dinantikan oleh semua yang tengah menjalani ibadah puasa. Pun demikian halnya dengan anak-anak. Bahkan terkadang sudah sejak siang mengumpulkan apa saja yang ingin dimakan saat buka puasa nanti.
Demikian pula yang dulu saya lakukan saat masih kecil. Dengan adik dan saudara-saudara yang lain kami kumpulkan makanan dan minuman. Tiba saatnya berbuka, ah ternyata perut kecil kami tak mampu menampung semua itu. Ternyata hanya benar-benar lapar mata.
Usai buka puasa dan dilanjutkan dengan sholat maghrib, kami pun bersiap tuk pergi ke masjid raya dekat rumah kami. Ada keseruan dan kebahagiaan tersendiri bagi kami karena bisa berjumpa dengan kawan-kawan yang lain di masjid nanti.
Masjid kami saat itu keadaannya masih sangat sederhana. Bangunan permanen tembok hanya ada di bagian depan saja. Sementara untuk jamaah perempuan ada di belakang. Bangunannya masih sederhana. Berbentuk rumah pangung dari kayu.
Keisengan saya dan banyak kawan-kawan lainnya sering terjadi saat tarawih tiba. Diawal-awal sembahyang kami masih tertib. Masih ada rasa takut dengan guru ngaji dan imam masjid yang selalu memantau kami anak-anak kecil. 
Namun saat pertengahan tarawih tiba, kami mulai iseng. Termasuk saya tentunya. Kami akan turun ke bawah panggung. Dan sejurus kemudian menjahili yang tengah melaksanakan tarawih diatas kami. Dengan menggunakan rumput kami sering iseng. Biasanya yang menjadi target kami adalah teman-teman sepermainan sendiri. Tapi seringnya kami apes, bukan teman-teman yang kena, tapi justru Acil guru ngaji kami sendiri. Kebayang kan, apa yang kemudian terjadi pada kami...

Tantangan #Day2 #RWCODOP2020
#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay2
#Ramadhan2020

Kamis, 23 April 2020

Tiada Kesan Tanpa Kehadirannya

Alhamdulillah, tahun ini masih diberi kesempatan menikmati ramadhan. Bulan penuh keberkahan yang tentunya pasti dinantikan oleh semua umat muslim. Bagaimana tidak, semua aktivitas kita bernilai ibadah dimata-Nya. Dan tentunya semua orang berlomba-lomba untuk bisa melaksanakan kewajiban ini dengan sebaik-baiknya.

Tahun ini pun kali kesekian satelit kecil saya menunaikan ibadah puasanya. Masih seperti tahun-tahun yang lalu, kehebohan terus mewarnai. Puasa belum setengah hari pun, daftar permintaannya sudah dilontarkan. Tidak apa-apa, yang penting dia selalu semangat untuk menjalankannya.

Mendampingi anak-anak dimasa belajar mengenal puasa memang meninggalkan cerita dan kenangan tersendiri bagi para ibu. Dari cerita merajuk, drama, dan kehebohan-kehebohan lain akan selalu menjadi kenangan saat puasa seperti saat ini.

Tidak ada salahnya memenuhi apa yang jadi keinginan si kecil kan? Sepanjang memang tidak merepotkan dan tentunya ada budget untuk membelinya. Saya percaya, mungkin ceritanya saat ini kelak akan menjadi kenangan tersendiri bagi si kecil.

Apa sih yang dia minta hari ini? Sebenarnya bukan hal mewah yang ia minta. Namun hari ini saya agak sulit menerjemahkan apa yang diinginkannya. Karena ia sendiri tidak bisa secara jelas menyebutkan apa yang diinginkannya. Ternyata oh ternyata, gara-gara iklan khas ramadhan yang mulai berseliweran sejak beberapa waktu yang lalu.

Padahal untuk hal yang satu ini, Alhamdulillah selalu tersedia di lemari pendingan. Namun permintaanya hari ini ingin beli yang baru. Yang masih tersegel. Mungkijn sensasi membuka tutup botolnya itu yangs selalu ia nantikan. Ah, ada-ada saja keinginan bocah satu ini.. Okay lah boy, nanti kita beli ya...asal jangan sampai mau dibuka sekarang.

Sambil lalu pun dia berkata, “Iyalah..puasa kurang lengkap tanpa kehadirannya”...Walah..kok kayak kalimat yang biasa tertera di kartu undangan ulang tahun ya, hehehe...itu cerita saya pagi ini dengannya Bunda, apa cerita Bunda dengan si kecil hari ini?...

#Ramadhanpenuhcerita
#ydsfmalang
#RWCODOP
#Onedayonepost
#literasidigital

Rabu, 22 April 2020

Ramadhan Yang Tak Lagi Sama

Wabah pandemi Corona nyatanya meninggalkan jejak yang luar biasa. Semua leading sektor pun terkena imbas dari kedatangan tamu tak diundang ini. Bahkan urusan ibadah umat pun juga terkena imbas.
Ramadhan kali ini pun, tak lagi sama dari ramdhan-ramadhan sebelumnya. Tidak akan ada lagi shalat tarawih, tadarus di masjid, bahkan sampai acara buka puasa bersama. Tentu pro dan kontra akan kebijkaan yang diterapkan pun bermunculan.

Namun satu hal, kegiatan ibadah hakikatnya adalah komunikasi pribadi yang kita lakukan kepada sang Maha Khalik. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap riitual yang biasa kita lakukan, tentu semua ini tak akan mengurangi nilai ibadah itu sendiri.

#Ramadhanpenuhcerita
#ydsfmalang
#RWCODOP
#Onedayonepost
#literasidigital

Bukankah Kalah Jadi Arang Menang Jadi Abu, Sia-Sia...


Menerima kehadiran orang lain dalam hidup kita itu tentu tidak mudah. Butuh ruang dan  waktu untuk bisa menjalaninya bersama. Menjalani dengan baik, bukan berarti dimaknai sesuatu yang tanpa masalah. Sebagai manusia biasa, tentu namanya masalah tidak akan pernah berhenti.
Kedewasaan bukanlah suatu hal sebatas teori semata. Lamanya saling penjajakan jauh sebelum terikat secara sah pun bukan jaminan akan langgengnya sebuah hubungan. Konon perbedaan umur yang banyak digaungkan oleh banyak awan pun tak dapat dibenarkan.
Permasalah, perbedaan adalah hal yang lumrah dan pasti terjadi. Lantas bagaimana sikap terbaik yang dapat dilakukan oleh kedua belah pihak peseteru? Tentu salah satu atau keduanay saling bisa menahan emosi. Menahan amarah sesaat yang acapkali sering berakhir dengan sebuha penyesalan.
Tidak mudah memang, namun bukan berarti suatu hal yang sulit untuk dicoba. Memang sekali lagi, butuuh ruang dan waktu. Apakah akan selalu berhasil? Tentu tidak juga jawabnnya. Bahkan dalam beberapa hal mungkin akan semakin runyam. Lalu bagaimana lagi?
Kalau saya pribadi selalu berprinsip satu hal. Apapun masalah yang kita hadapi saat itu, tidak harus selesai saat itu juga. Terkadang butuh waktu untuk menyendiri sebagai bagian dari introskpeksi diri. Perlukah kehadiran pihak lain dalam hal ini?
Semua kembali pada pribadi masing-masing. Saya percaya untuk hal-hal yang sifatnya pribadi tentu kita pnya batasan masing-masing. Tak perlu dibahas lebih lanjut, apalagi terkesan menggurui.
Sekarang kembali pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita bisa menyikapi dengan semua persoalan yang ada. Hati boleh panas, tapi pikiran tetap jernih. Itu yang selalu petuah bijak dengungkan. Jadi, mengedepankan emosi semata tentu tiada akan ada gunananya. Bukankah kalah jadi arang,dan menang jadi abu? Sia-sia..

#kmp3
#feature
#kelasmenulisperpustakaan

Senin, 20 April 2020

Kartini Masa Kini

Perjuangan RA. Kartini sejatinya selalu hidup di hati semua perempuan Indonesia. Semangat perjuanagn dan kasih sayangnya begitu melekat terpatri dalam sanubari. Saat ini kita memang tidak lagi ikut berperang memanggul senjata. Saat ini kita pun tidak sedang berperang dengan negara manapun yang menguasai kedaulatan negeri ini.

Namun hari ini, kita masih ikut berjuang bersama-sama dengan keluarga kecil kita di rumah dan di sekolah. Apresiasi yang sangat mendalam untuk semua perjuangan kaum hawa di negeri ini. Nun jauh disana, masih banyak saudara-saudara kita yang masih berjuang dengan penuh kesabaran.
Mendampingi putera-puterinya yang mungkin sudah tak berayah lagi. Atau mungkin, hadirnya ia yang konon adalah tulang rusuk bagi pasangannya,harus berubah menjadi tulang punggung untuk keluarganya.

Semangat perjuangan perempuan Indonesia tak perlu lagi diragukan barang setitik pun.  Semangat juang Kartini akan selalu hadir dalam derap langkah Kartini-Kartini masa kini. Tetesan darah dan meregang nyawa sekalipun rela dikorbankan demi anak-anaknya.

Semoga kehadirannya yang selalu bak dian yang tak pernah padam mendapatkan tempat tersendiri bagi semua yang ada di sekelilingnya. Tetap menjadi sosok penerang dalam kegelapan. Hadirnya senantiasa menjadi pelita dalam gelap. Habislah gelap tuk menyosong terang bersama Kartini-Kartini masa kini.

#kmp3
#feature
#kelasmenulisperpustakaan

Jangan Sampai Orang Berfikir Lain Karena Busana Yang Kita Kenakan

Menjadi diri sendiri itu memang harus. Saya pun demikian halnya. Namun, sebagai orang yang juga tentunya dibekali dengan pendidikan, satu hal ini juga wajib kita perhatikan. Yang kita pakai hendaknya sesuai dan pantas dengan acara yang tengah kita ikuti.

Apakah salah kalau lantas ada orang lain yang kemudian berfikiran lain karena busana yang kita kenakan kurang tepat? Tidak ada yang salah dengan penilalain itu kan? Sah-sah saja saya kira jika sampai ada orang yang berfikiran lain tentang kita.

Siapa bilang lantas kita akan kehilangan identitas diri sendiri? Sama sekali tidak. Justru saya selalu berfikir, orang akan jauh lebih hormat dan santun dengan apa yang kita kenakan. Bukankah itu juga bagian dari upaya diri kita untuk ingin dihargai oleh orang lain.

Ups, jangan buru-buru memvonis gila hormat. Tentu sama sekali tidak. Tak perlu berfikir jauh-jauh tentang orang lain. Sekali lagi ini tentang diri kita sendiri. Jika kita saja belum bisa menghargai diri kita sendiri, bagaimana mungkin orang lain akan menghargai kita.

Pakaian seperti apa yang termasuk santun dan pantas. Mengenai kesantunan sudah barang tentu semua orang di negeri ini pasti punya standart kesantunan yang hampir sama. Lantas apa pula yang dimaksud dengan kepantasan? Tentunnya terkait kepantasan adalah di sesuaikan dengan acara dan waktu yang kita ikuti.

Jujur saya pribadi, saat mengikuti kegiiatan tertentu kemudian melihat tampilan seseorang  yang kurang pantas jadi meninggalkan kesan yang kurang baik. Rambut lusuh, gondrong, asesoris yang tidak pada tempatnya, pemilihan baju yang sembarangan, duh rasanya...nih orang sadar apa ga sih. Itu selalu yang pertama kali saya batin saat melihatnya.

Kalau saja kita bisa dan mau sedikit mengubah penampilan sesuai dengan tempat dan kondisinya, itu bukan buat siapa-siapa. Ya tentunya untuk orang itu sendiri. Apalagi kalau tempat yang kita kunjungi atau kegiatan yang kita ikuti ini terkait kegiatan keagamaan. Apakah memang begitu tampilan untuk menghadap-Nya?

#kmp3
#feature

Sabtu, 18 April 2020

Mendadak Master Chef


Kegiatan belajar di rumah dan work from home, nyatanya menumbuhkan bakat-bakat yang terpendam. Salah satunya adalah kegiatan masak memasak. Berada selama 24 jam penuh di rumah, tentu juga menuntut seorang ibu untuk selalu siap sedia menyiapkan makanan untuk seluruh anggota rumah. Terutama untuk anak-anak yang tak lagi bebas ruang geraknya.
Membuat makanan untuk anak-anak adalah kegiatan yang cukup menyenangkan. Walapun jujur bagi saya pribadi, kegiatan ini juga sekaligus mengasah mental. Bagaimana tidak? Makanan yang kita olah, secara jujur dan polos akan langsung mereka kurasi.
Anak-anak dengan segala kepolosan dan keluguannya, sudah barang tentu tidak akan berbohong. Enak dibilang enak, pun demikian jika sebaliknya. Bahkan, kala makanan yang kita sajikan tidak enak dimulut mereka, jangan harap makanan itu jadi dimakan.
Tapi, jangan hanya karena hal ini lantas kita jadi tak mau lagi masak ya. Dan pagi tadi, dua kudapan berhasil  saya buat bersama si kecil. Potato cheese ball dan pie susu mini. Apakah enak? Ga perlu tanya ke mereka. Yang  jelas, tak sedikitpun kedua kudapan itu bersisa. Sudah tahu kan apa artinya?

#kmp3
#feature
#kelasmenulisperpustakaan


Kamis, 16 April 2020

Panitia Penjaga Pintu Surga

Saling mengingatkan adalah hal wajib bagi sesama. Terutama itu yang saya pahami dari apa yang saya percayai. Namun adakalanya, penyampaian yang diberikan merupakan hal yang perlu juga kita pertimbangkan. Jangan sampai niat baik kita dalam menyampaikan suatu hal positif malah berujung pada kesalahpahaman dalam penerimaannya?

Pernah mengalami hal tersebut? Pernah menjadi sosok yang menerima nasihat yang diberikan? Saya percaya, niat baiknya dalam memberikan pesan dalam nasihat tersebut tentu baik. Tapi, sebagai mahluk yang tentunya sangat beragam sudut pandang yang kita miliki, baiknya perlu juga dipertimbangakan cara-cara penyampaiannya.

Laksana guru yang harus menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Tentu dengan keberagaman murid yang ada di kelas, hal ini pun perlu menjadi titik perhatian. Penyampaian yang baik, Insya Allah akan dapat diterima dengan baik pula. Sedangkan cara penyampaian yang kurang baik, malah berujung sebaliknya.

Kembali pada saling menasehati diantara sesama. Dan satu hal lagi yang selalu saya ingat adalah jangan samapai pesan yang kita berikan seakan menggurui. Segmen penerima yang kita berikan pun harus kita pahami. Terutama pada orang yang lebih tua dari kita. Memang pepatah bijak mengatakan, jangan dilihat siapa yang memberikan nasihat. Lihat saja apa yang disampaikannaya.

Pepatah bijak itu tidaklah salah, namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu. Kesan menggurui itu harus kita jauhi. Selain tidak meninggalkan kesan menggurui adalah jangan dengan menggunakan ancaman. Jika tidak ini maka akan itu akibatnya. Saya paling tidak suka membaca atau mendengar nasihat dengan ancaman.

Jadi satu hal yang ada dalam benak saya. Apakah anda panitia penjaga pintu surga? Hingga seakan-akan apa yang disampaikan adalah dia sang penentunya. Sudah sangat merasa yakin, bahwa si pemberi nasihat adalah yang paling baik dan benar.

Setiap orang pasti punya kesalahan dan kekhilafan. Namun bukan berarti, kita berhak menjatuhkan vonis semena-mena. Jangan sampai nasihat yang kita berikan pada orang lain, seakan-akan kitalah yang paling baik. Yang sudah pasti masuk surga karena kitalah yang terbaik dari semua hal.

Jangan pula menggunjingkan kesalahan orang lain seakan-akan kita sendiri tak pernah berbuat salah. Dan jangan pula sering menyuarakan  semua kebaikan yang telah kita kerjakan. Mengapa tak kita sembunyikan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan, seperti halnya kita menyembunyikan aib kita sendiri. Jika surga saja masih belum jadi jaminan saya akan masuk kesana, buat apa saya harus menghujat dosa yang orang lain lakukan?

Satu hal yang selalu bersemayam dalam benak ini, apakah anda panitia pintu masuk surga?

#kmp3
#feature
#kelasmenulisperpustakaan

Belajar Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

#KMP3 Ramadhan baru saja usai. Seiring gema takbir yang berkumandang. Nuansa bahagia menyambut hari yang fitri. Berbagai penganan pun dihi...